Feeds:
Pos
Komentar

Teaching…

“teaching is a personal way to touch the soul of young human, to motivate and to transfer the joy and passion of learning…”

( S Agung Wibowo)

“Walk the Talk” adalah sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris yang menggambarkan seseorang yang perkataannya sesuai dengan perbuatannya. Mungkin inilah yang hilang dari kelas-kelas di sekolah-sekolah kita. Para guru tidak lagi melakukan apa yang dikatakannya, sehingga para siswa tidak lagi bisa melihat teladan dari orang yang dikatakan mendidiknya. Kegiatan belajar mengajar seringkali tidak berjalan dengan baik. Guru lebih banyak mengatur siswanya dari pada memfasilitasi siswa untuk belajar. Sehingga guru banyak kehilangan kendali atas kelasnya dan mengatakan bahwa siswa tidak bisa diatur.

Itulah yang tersirat ketika penulis memberikan pelatihan tentang Pengelolaan Kelas pada program Adopt the Teacher yang dilaksanakan oleh Sampoerna Foundation, pada hari Sabtu, 3 Mei 2008. Secara teori dan konsep peserta pelatihan yang notabene para guru senior dengan mudah memberikan respon secara kognitif ketika diminta mendefinisikan apa itu pengelolaan atau manajemen kelas. Tidak ada masalah bagi mereka untuk menyebutkan faktor-faktor psikologis dan faktor fisik yang mempengaruhi proses kegiatan belajar mengajar. Kalau diberi tes tertulis mungkin nilainya rata-rata 80.

Jargon Pendidikan

Tidak bisa dipungkiri para guru kita terjebak dengan jargon-jargon pendidikan tanpa tahu konkrit pelaksanaanya di kelas. Ketika berdiskusi mengenai guru sebagai fasilitator maka kebanyakan peserta hanya memberikan definisi ataupun penjelasan yang teoritis tanpa bisa memberikan contoh yang konkrit apa yang dilakukan guru sebagai fasilitator di dalam kelas. Dengan fasih para guru bisa menjelaskan apa itu student centered dan apa itu teacher centered namun kesulitan untuk memberikan contoh aplikasinya di dalam kelas.

Para guru tahu bahwa mereka itu adalah teladan untuk para siswa namun pengetahuan tersebut tidak tercermin dalam tindakan mereka sebagai guru. Sebagai ilustrasi, ada  kesepakatan tidak tertulis dalam pelatihan tersebut bahwa jika ingin menyampaikan pendapat ataupun bertanya maka harus tunjuk tangan terlebih dahulu. Yang terjadi adalah beberapa guru lebih senang menyahut pertanyaan tanpa diminta, berkomentar atas pendapat rekannya dan berbicara ketika orang lain berbicara. Bisa dibayangkan kelas yang seperti apa yang dimiliki para guru tersebut. Jika gurunya saja tidak bisa memberikan contoh atau teladan bagaimana caranya menghormati orang lain, bagaimana siswanya bisa diharapkan menghormati orang lain?

”Walk the Talk bukan Walk the Dog”

Sebagus apapun rencana pelaksanaan pelajaran yang telah disiapkan secara tertulis tidak akan berlangsung baik tanpa ada pengelolaan kelas yang matang. Guru adalah faktor penting dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru perlu mengenali kondisi siswa, mempunyai kemampuan komunikasi yang baik, memberi perhatian kepada seluruh siswanya secara proporsional, mempersiapkan dan mengendalikan emosinya sebelum dan selama mengajar di kelas.

Tentu saja kegiatan belajar mengajar juga bergantung pada faktor-faktor lain seperti kondisi fisik kelas, apakah penerangan cukup, ventilasi cukup, tingkat kebisingan suara terjaga serta akses terhadap sumber-sumber belajar terpenuhi dengan adil.

Faktor siswa juga penting agar proses belajar berlangsung produktif. Apakah mereka sudah siap belajar, motivasinya terbina dengan baik, suasana hatinya nyaman untuk belajar, tidak ada tekanan baik dari guru maupun teman siswa lain ataupun dari lingkungan sosial siswa.

Namun hal-hal tersebut juga akan percuma jika gurunya bertingkah semau gue, tidak pedulian alias cuek, atau bahkan terlalu keras alias otoriter. Sebaik apapun yang dikatakan guru jika guru tersebut tidak mencontohkannya di dalam kelas, tidak menunjukkan tingkah laku yang sesuai dengan apa yang diajarkannya maka proses kegiatan belajar mengajar tidak akan berlangsung dengan baik. Karena siswa tidak akan belajar dari apa yang dikatakan gurunya, tetapi akan belajar dari yang dilihatnya, dari contoh yang dilakukan gurunya. Proses belajar tidak akan berlangsung produktif dan efektif jika gurunya belum melakukan apa yang diajarkan. Maka kebiasaan “walk the dog” –menuntun anjing– harus dihilangkan, jadilah guru yang “walk the talk”—konsisten antara perkataan dan perbuatan–  bukan “walk the dog.”

Oleh S Agung Wibowo

Pelatih Guru pada Yayasan Pendidikan Luhur

Jakarta.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan tentang cara kerja otak menjadikan keuntungan pula bagi para guru. Proses belajar mengajar dapat disesuaikan dengan cara kerja otak sehingga menjadi lebih efisien dan hasil yang lebih baik. Artikel ini merupakan ringkasan dan komentar dari buku “Brain Matters: Translating Research into Classroom Practice” pada bagian bagaimana ingatan itu bekerja.

Guru perlu tahu tentang cara kerja otak, tentu saja tidak harus sekomprehensif para ilmuwan otak atauf dokter neurolog.  Berikut ini akan dibahas bagaimana ingatan atau memori itu bekerja. Tidak akan dibahas terlalu dalam, bagaimana informasi dikirim dari neuron ke neuron tetapi secara garis besar yang perlu diketahui oleh guru. Tentu saja dianjurkan untuk para guru terus belajar mencari informasi bagaimana otak itu bekerja agar pekerjaannya mengajar semakin baik.

Ingatan

Sebelum kita bahas bagaimana otak memproses ingatan ada baiknya memahami apa itu ingatan. Ingatan adalah sesuatu yang membuat kita bisa belajar dari pengalaman. Bahkan ingatan adalah hal yang penting untuk bertahan hidup. Secara fisiologis, Daniel J Siegel dari Universitas California memperkuat apa yang dikatakan Donal Hebb menyatakan ingatan terbentuk dari “Neuron yang memercik bersama, bertahan bersama, serta berhubungan saat yang bersamaan.” Pengalaman akan mengubah cara koneksi sinapsis terjadi dan meningkatkan kemungkinan percikan asosiasi dengan neuron lain. Ingatan itu sebuah proses, bukan sebuah benda atau satu kejadian tunggal.  Ketika sebuah peristiwa dialami, misal melihat seorang anak melihat Tugu Monas, maka secara simultan semua informasi yang ada saat itu diproses, cahaya pembentuk bayangan yang masuk ke mata, desiran angin yang menyentuh kulit, suara ibunya yang berkata, “Tugu Monas,” serta hal-hal lain yang berkaitan masuk ke otak dan menimbulkan percikan tidak hanya satu melainkan banyak neuron yang saling membentuk hubungan sinapsis pada kecepatan tinggi seakan-akan bersamaan, itulah yang membentuk ingatan “Tugu Monas. Sebuah proses yang kompleks dan rumit namun berlangsung sangat cepat.

Model Pemrosesan Ingatan

Patricia Wolfe membuatkan sebuah model bagaimana otak manusia bekerja ketika mengingat sesuatu.  Jika model tersebut dibuat ilustrasi, yang digambarkan pada gambar berikut ini:

Model di atas hanya menunjukkan fungsi, bukan secara struktural, artinya tidak dibahas di lokasi mana di bagian otak yang menyimpan ingatan indera, ingatan kerja atau ingatan jangka panjang. Juga tidak menunjukkan bagian-bagian terpisah yang berfungsi otonom.  Model tersebut hanya untuk mempermudah kita memahami cara kerja otak.

Ingatan Indera

Pada tahap ini semua informasi masuk, cahaya, suara, desir angin, dengan kecepatan yang luarbiasa. Anda yang sedang mengetik di depan komputer di ruang keluarga bersama anak-anak bermain serta televisi yang menyala menerima jutaan informasi. Pada saat inilah penyaring pada ingatan indera berfungsi. Hampir semua informasi yang masuk disaring dan 99 persennya dibuang tidak dilanjukan pada tahap pemrosesan lebih lanjut. Bayangkan kalau jutaan informasi yang masuk melalui indera tadi diproses oleh otak kita. Suara anak-anak bemain, cahaya TV yang berpendar, halusnya bahan celana yang kita pakai, desisan angin yang melalui jendela, deru motor di kejauhan semuanya diproses oleh otak kita. Kita tidak akan sanggup berpikir fokus.

Sama dengan yang terjadi di kelas. Siswa mendapatkan jutaan informasi melalui inderanya. Hampir semuanya tidak diteruskan ke proses berikutnya.  Apa yang menjadikan informasi masuk ke proses selanjutnya? Hal ini harus diketahui para guru.

Persepsi

Informasi yang masuk berupa rangsangan mentah, cahaya, gambar, suara, sentuhan dan lain sebagainya. Misalnya gambar ini:

Ini tidak berarti apa-apa bagi seorang anak usia 3 tahun yang belum belajar membaca huruf dan bilangan. Bisa dikatakan coretan itu tidak bermakna. Tetapi bagi kita, bila ditanyakan ini huruf apa maka akan menjawab huruf  “B” atau jika pertanyaannya bilangan berapa, maka ini adalah bilangan “13”.

Perhatian

Siswa-siswa sering dikatakan tidak memberikan perhatian. Para guru sering mengeluh, “sulit sekali menarik perhatian siswa saya.” Sebenarnya ini tidak tepat karena otak kita selalu memperhatikan apa yang terjadi pada lingkungan kita. Hanya saja yang menjadi perhatian para siswa itu bukan yag kita anggap penting. Perhatian itu sangat selektif. Sayangnya apa yang disampaikan guru kadang tidak menarik perhatian otak siswa. Ada beberapa hal yang bisa menjadi pemikiran bagi para guru agar merancang kegiatan belajarnya berdasarkan tiga hal yang akan dibahas berikut ini:

a.      Hal Baru

Kebaruan atau hal baru merupakan hal yang penting untuk menarik perhatian. Otak kita dirancang untuk memberikan perhatian kepada hal yang baru pada lingkungan. Ini masalah pertahanan diri untuk keselamatan. Nenek moyang kita yang masih berburu di alam bebas selalu mengamati lingkungan memperhatikan hal baru yang belum pernah terlihat sebelumnya, jejak kaki, patahan cabang, goresan kuku binatang dan lain sebagainya. Guru sejarah yang datang dengan pakaian Diponegoro untuk bercerita tentang sejarah perang Diponegoro 1625-1630 akan menarik perhatian siswa. Guru IPA membawa berbagai jenis hewan ke dalam kelas untuk menjelaskan tentang klasifikasi akan mendapat perhatian lebih dari pada hanya meminta siswa membaca buku paket.

b.      Intensitas Informasi

Warna yang kontras, ukuran yang besar, suara yang merdu, akan menarik perhatian. Para pekerja yang bekerja di TV dan periklanan tahu tentang hal ini. Juga mereka yang bekerja di bidang pertujukan di panggung. Sehingga volume suara, perpaduan warna, ukuran media menjadi perhatian mereka. Jika ada dua rangsangan yang muncul bersamaan maka yang intensitasnya lebih yang akan mendapatkan perhatian lebih.  Sekarang ini banyak bermunculan metode pembelajaran yang menggunakan multimedia yang mengatur intensitas informasi sehingga yang paling relevan yang paling ditonjolkan.

c.       Gerakan

Gerakan adalah faktor ketiga yang menarik perhatian. Secara umum kita tertarik kepada hal-hal yang bergerak dan dinamis. Anak-anak kecil mudah sekali tertarik dengan benda-benda yang bergerak. Kadang mereka menendang, melemparkan kaleng atau boneka hanya ingin tahu bagaimana benda tersebut bergerak.  Lampu neon iklan yang berkedip (seakan bergerak) akan lebih menarik perhatian dari pada lampu yang menyala statis. Alat peraga yang dapat dipindah, dibuka, ditutup, digerakkan maju, mundur, diputar akan jauh lebih menarik perhatian dari pada gambar yang statis.

Makna dan Perhatian

Pada awal tulisan ini saya menuliskan tentang “Monas” jika seseorang yang pernah melihat Monas atau membaca tentang tugu Monas saya minta memejamkan mata dan kemudian saya berkata bayangkan “Monas,” mungkin dia bisa membayangkan tugu Monas. Sedangkan orang Rusia yang belum pernah sama sekali datang ke Jakarta atau melihat gambar tugu Monas, kata tersebut tidak berarti apa-apa.  Juga coretan pada awal tulisan ini  yang bisa berarti bilangan 13 atau huruf B, itu hanya bermakna bagi seseorang yang pernah belajar tentang hal itu. Juga ketika kita menunggu di ruang dokter dan mengambil majalah kedokteran dan membuka artikel penyakit dalam bahasa Perancis mungkin akan cepat kita letakkan lagi karena apa yang tertulis di sana tidak bermakna bagi kita.  Jadi walaupun kita bisa membuat ketiga hal yang menarik perhatian tadi dalam proses pembelajaran tetapi kalau tidak berkaitan dengan apa yang sudah dikenali dahulu oleh otak siswa maka cenderung tidak akan diproses juga oleh otak siswa.  Otak kita mencari pola yang sudah dikenal.

Apa yang Anda lihat? Tangan diberi gambar? Ular? Anjing? Semuanya tergantung dari pola apa yang pernah Anda dapatkan sebelumnya.

 

Emosi dan Perhatian

Robert Sylwester penulis Celebration of Neurons mengatakan “Emosi mengarahkan perhatian, dan perhatian mengarahkan pembelajaran.” Otak kita melalui indera yang kita miliki selalu melakukan pemindaian terhadap lingkungan di sekeliling kita. Untuk apa? Untuk bertahan hidup.  Ketika kita berjumpa atau tiba tiba ada hewan melata yang panjang tanpa kaki melintas di depan kaki kita. Kemungkinan besar tindakan kita adalah diam terpaku atau lari. Mengapa demikian? Karena otak kita memerintahkan kita untuk selamat.  Atau jika ada benda melayang dekat dengan kepala kita otomatis kita menunduk.  Jantung kita kemudian berdebar lebih cepat, mungkin juga muncul keringat dingin tiba-tiba.  Tindakan kita kadang irasional lebih kepada emosi dari pada berpikir secara logis. Itu juga yang terjadi pada siswa yang tiba-tiba saja terdiam ketika melihat seorang guru melintas karena ia tahu bahwa dia belum mengerjakan tugas, jadi berusaha untuk tidak terlihat atau terdengar oleh guru itu.

Dual hal di atas: Makna dan Emosi sangat berpengaruh terhadap pembelajaran. Dua hal yang bisa menyebabkan sebuah ingatan akan diproses ke tahap selanjutnya atau dibuang untuk tidak diproses ketahap selanjutnya. Tergantung bagaimana hal tersebut ada kaitan atau tidak dengan si pembelajar.

Implikasi hal ini kepada pembelajaran adalah guru harus merancang kegiatan belajar mengajar yang bermakna bagi siswa serta mempunyai tingkat emosi yang cukup agar menarik perhatian siswa sehingga bisa diproses pada tahap selanjutnya.

Ingatan Kerja

Pada bagian awal, pada proses ingatan memori semua berjalan tanpa kita sadari. Hampir semua proses dalam otak kita berlangsung tanpa kita sadari. Otak kita secara konstan memindai informasi yang ada di sekeliling kita, tujuannya adalah membuat kita selamat.  Meskipun demikian ada satu

yang penting jika informasi tersebut tidak diproses secara sadar maka kita tidak akan mengerti dan paham terhadap informasi yang masuk, bahkan untuk mengingat rangkaian nomor telepon baru yang disampaikan oleh kenalan baru kita.

Meskipun memori kerja ini penting, kemampuan untuk mengingatnya pendek. Bahkan kita kadang langsung lupa lagi ketika selesai memutar nomor telepon baru rekan kita.

bersambung…

Dunia anak-anak adalah dunia yang sangat menyenangkan. Apa yang dilihat, didengar, dicium, diraba, dan dirasa merupakan sesuatu yang baru dan menyenangkan. Semuanya dilihat dari mata anak-anak sangatlah menyenangkan. Ban bekas yang tergolek di tanah bisa menjadi permainan yang sangat menyenangkan. Digelindingkan kesana-kemari, dikejar dengan hati penuh ceria. Botol plastik bekas minuman bisa menjadi roket yang perkasa di tangan seorang anak, dengan gemuruh suara mesin dari mulutnya roket terbang ke angkasa tanpa batas. Dunia ini dijalani, dijelajahi dengan pikirannya yang terbuka untuk menemukan dan menerima hal-hal baru.

Kita orang dewasa, bisa menjadi pengganggu atau pembantu bagi anak-anak untuk mengalami sendiri dunia ini. Tentu pilihan pertama tidak akan kita harapkan, pilihan kedua adalah hal yang terbaik yang bisa kita lakukan. Bagaimana cara kita membantu anak-anak menemukan dunianya? Kadang-kadang lingkungan yang ada di sekitarnya terbatas. Orang dewasa yang berada di dekatnya tidak mau tahu kebutuhan dan keinginan mereka. Sekolah memberikan tugas, tugas dan tugas. Anak harus belajar ini belajar itu. Belajar adalah mencatat dan mengerjakan tugas.

Ada satu cara yang bisa dilakukan orang dewasa yang peduli terhadap perkembangan jiwa, perkembangan kecerdasan anak. Cara yang murah dan menyenangkan.  Anak-anak suka mendengarkan cerita. Mungkin ada di antara kita yang ketika kecil dahulu beruntung mendapatkan ayah atau ibu yang gemar bercerita. Cerita tentang kehidupan, cerita tentang kehormatan, cerita tentang kejujuran, cerita tentang persahabatan. Cerita-cerita itu membentuk kepribadian kita membentuk karakter kita.

Berkelana dalam pikiran, takjub.

Saat ini, jika kita tidak bisa bercerita sendiri banyak buku telah ditulis untuk anak-anak. Buku-buku yang sesuai dengan perkembangan jiwa mereka. Buku-buku tentang dunia yang  penuh warna-warni, dunia yang penuh suara tawa dan kegembiraan, dunia dengan masalahnya yang membuat orang menjadi kuat secara fisik dan jiwa.  Kita bisa membuka jendela dunia kepada anak-anak, mewariskan kebijaksanaan, memberikan sarana berpikir, memberikan kesempatan mengalami konflik pemikiran dengan cara yang aman.

Mendengarkan cerita yang dibacakan merupakan hal yang sangat baik bagi anak-anak. Mereka bisa mengenal berbagai macam karakter, melalui intonasi bacaan, kata-kata yang yang berada di dalam konteksnya membuat mereka belajar bahasa dengan lebih cepat. Kosa kata akan berkembang seiring dengan banyaknya bacaan yang didengar dan disimak. Gambar-gambar yang sederhana, mudah dicerna, beragam warna akan membawa anak-anak ke alam pemikiran yang sangat kaya. Alur cerita yang berlainan membantu mereka mengamati kehidupan mereka sendiri, bagaimana mereka harus bersikap serta berhubungan dengan sesama.

Bacaan bermutu perlu dipilihkan orang dewasa untuk anak-anak yang akan diharapkan tumbuh menjadi generasi yang lebih tanggap, lebih bertanggung jawab, lebih peduli serta lebih cerdas dalam mencarikan solusi yang lebih ramah terhadap kemanusiaan dari generasi sebelumnya.

Berinteraksi dengan Cerita

Pilihan ada pada orang dewasa, apakah kita akan menjadi pengganggu anak-anak itu menjalani dunianya atau menjadi pembantu mereka mengenali dunia ini dengan membuka jendela dunia bagi mereka melalui buku.

Depok, 21 Maret 2011

S Agung Wibowo

6 Kunci Strategies untuk membuka

Motivasi Intrinsik dan Mencapai Kinerja yang Baik

  • Keamanan

Peserta harus merasa aman baik secara fisik maupun psikologis. Mendapatkan perlindungan dari cemoohan dan kehilangan muka atau harga diri.  Agar peserta berpartisipasi secara penuh pelatih harus mengusahakan rasa aman ini ada pada peserta. Cara menyanggah, menyampaikan kritikan dalam sebuah pelatihan harus dilakukan dengan cara yang bermartabat dan dalam konteks mencari ilmu. Saling menghormati antara pelatih dan peserta serta antara para peserta adalah menjadi sebuah keharusan.

  • Keberhasilan

Rasa mendapatkan sesuatu. Rasa berhasil mencapai sesuatu dalam pelatihan harus dimiliki oleh para peserta pelatihan. Pelatih harus mendesain pelatihamnya sehingga seluruh peserta dapat mencapai sebuah keberhasilan tertentu dalam proses pelatihan. Hal ini akan membuat mereka ingin terus melanjutkan ke tingkat berikutnya.

  • Kebersamaan

Merasa sebagai satu bagian, dihormati dan dihargai merupakan hal yang penting bagi peserta.  Pelatih harus mengusahakan agar setiap peserta dalam pelatihan terlibat dalam kegiatan. Peserta yang aktif harus diberi kesempatan sementara peserta yang kurang aktif harus didorong untuk berpartisipasi.  Hal ini penting karena pelatihan ini untuk semua yang hadir bukan untuk orang-orang tertentu saja.

Dalam penyampaian pelatihan:

–          Samasekali meninggalkan sarkasme dan ejekan, baik dari pelatih maupun sesama peserta.

–          Menghindari situasi yang mengakibatkan satu atau beberapa peserta merasa tertinggal atau tidak merasa dihargai.

–          Menggunakan metode kepemimpinan yang efektif dalam membangun kerjasama, saling mendukung dan sikap saling menghormati semua yang terlibat dalam pelatihan.

–          Menggunakan variasi metode ”team building” yang aman untuk mendukung kebersamaan kelompok, mendorong saling menghormati antar peserta dan antar kelompok.

  • Kemerdekaan dan Kebebasan

Pilihan, penghormatan terhadap pribadi, dan kebebasan dari tekana dan kontrol yang manipulatif penting bagi semua. Desain pelatihan yang efektif dan menarik akan membuat para peserta pelatihan terlibat dalam kegiatan tanpa merasa terpaksa.

  • Kegembiraan

Suasana yang menyenangkan membuat orang tidak tertekan, humor yang pas membuat situasi rileks dan nyaman. Ini akan menghindarkan peserta dari kebosanan atau frustasi yang menyebabkan mereka kehilangan ketertarikan terhadap materi.

  • Tujuan yang Berharga

Peserta pelatihan punya tujuan ketika mereka datang ke pelatihan. Maka pelatih harus menghargai hal ini. Pelatih dapat mendesain:

  1. Pelatihan yang merupakan hal menjadi ketertarikan peserta.
  2. Pelatihan yang merupakan sarana memecahkan masalah bagi peserta. Peserta akan lebih menghargai pelatihan yang memberikan manfaat langsung terhadap masalah mereka.
  3. Bangun dan perkuat hubungan yang positif dengan peserta (ini terutama bagi peserta yang datang karena tugas dari atasan, bukan karena kebutuhan), yakinkan kepada mereka dengan tindakan dan sikap serta perkataan dalam pelatihan yang membuat mereka melihat bahwa waktu, energi yang mereka berikan merupakan hal berharga.

Singkatnya peserta akan belajar dan terlibat dengan penuh kesungguhan jika mereka melihat tujuan belajar mereka atau usaha mereka dihargai dengan baik.



Membangun Budaya Membaca

Membangun Budaya Membaca

Membaca merupakan sebuah tradisi intelektual yang belum mengakar di Indonesia. Banyak sekali penyebabnya , dua diantaranya adalah kurangnya buku yang berkualitas dan menyenangkan di sekolah serta kurangnya kegiatan membaca atau tradisi membaca di sekolah. Mengapa di sekolah? Karena sekolah seharusnya yang menjadi pusat pengembangan budaya intelektual yang salah satu pondasinya adalah membaca.  Karena itu selain sekolah harus mempunyai perpustakaan yang bagus dan memadai sekolah juga harus mempunyai program untuk membangun budaya membaca.

Pertanyaannya bagaimana memulainya? Tentu saja harus dimulai dari guru. Guru harus sadar bahwa ia adalah teladan bagi para siswanya. Perkataan guru akan lebih mengena jika guru juga melakukannya.  Karena siswa akan melihat apakah yang dikatakan gurunya selaras dengan perkataannya.

 

Pelatihan Membangun Budaya Membaca

Seorang Peserta berbagi isi buku yang dibacanya.

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 16-17 Februari 2011 di Kecamatan Merlung Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi ditengah perkebuan sawit,  Tanoto Foundation mengadakan pelatihan Pelita Pustaka tahap 2 berupa pelatihan Membangun Budaya Membaca. Pesertanya adalah lima sekolah dasar negeri yang terletak di dalam perkebunan sawit Asian Agri.

Membuat Catatan Bacaan

Selama dua hari para guru dan kepala sekolah mengikuti pelatihan Membangun Budaya Membaca yang disampaikan oleh pelatih dari CREDO, Bp. S Agung Wibowo dan Ibu Dina Riyanti. Dalam pelatihan tersebut peserta diajak berdikusi mengenai apa itu membaca, hal-hal yang menyebabkan siswa senang membaca, hal-hal yang menyebabkan siswa tidak mau membaca, berlatih membaca lantang untuk siswa baik bagi siswa kelas rendah maupun siswa kelas tinggi, membuat program membaca mandiri, bagaimana membantu siswa untuk lebih dekat serta paham apa yang dibaca,  serta berlatih membuat kegiatan yang menghubungkan antara buku-buku perpustakaan yang non-teks dengan pelajaran yang dipelajari di kelas.

Peserta berlatih Membaca Lantang

Pelatihan berlangsung seru walau tetap serius. Para guru bahkan menyimak bagaikan anak-anak ketika dibacakan buku cerita dan konsentrasi penuh ketika membaca mandiri.  Para guru juga bersemangat ketika mengerjakan tugas layaknya siswa serta penuh eskpresi ketika berlatih membaca lantang untuk para peserta lain.

Jakarta,  28 Februari 2011

Teknik Mengajar dan Melatih
(Terjemahan dan Ringkasan dari “Teaching and Training Techniques”, Spence
Rogers)

KONTEKS, ISI, PROSES:

KONTEKS adalah kondisi dan lingkungan fisik dan emosi pada saat pembelajaran.
Konteks fisik: ruang, cahaya, penataan meja, aroma, suara dll
Konteks emosi: suasana perasaan yang timbul saat pelatihan maupun pembelajaran
berlangsung.

ISI adalah pengetahuan, keterampilan dan pemahaman yang akan diterima si
pembelajar. Isi harus dikelola dengan baik dan secara khusus didefinisikan
sehingga bisa terlihat kelakuan yang teramati sehingga keberhasilan belajarnya
dapat dikenali.

PROSES
Dalam PROSES terdapat Gaya, Strategi dan Teknik yang dilakukan guru atau pelatih
sehingga pembelajar dapat dijamin mencapai tujuan pembelajaran. Proses
melibatkan apa yang dilakukan guru atau pelatih untuk mengelola ISI dan KONTEKS.

Gaya: merujuk kepada kepribadian pelatih atau guru yang memiliki pengalaman, dan
cerita, yang muncul ketika mengajar dan belajar.

Strategi adalah langkah-langkah yang diambil ketika:
• Membangun dan menjaga konteks yang efektif
• Merancang dan menyampaikan isi
• Menjamin bahwa tujuan pembelajaran tercapai

Teknik adalah cara yang sistematis yang menjamin strategi yang dijalankan
berjalan dengan lancar untuk mencapai tujuan pembelajaran.

bersambung

S Agung Wibowo

Guru

Seorang rekan mempertanyakan kenapa saya mengajarkan agar guru menjadi manajer? Kenapa bukan pemimpin? Pertanyaan yang relevan dan mungkin patut direnungkan oleh semua orang yang dengan sadar maupun terpaksa menjadi guru.

Sebelumnya saya ingin menyampaikan sebuah keluhan dalam hati yang terbersit ketika mendengarkan jawaban dari seorang guru ketika ia  ditanya apa yang membuatnya bahagia? Dia menjawab, ”Ketika mendapatkan TKD*.” Serendah itukah, kebahagiaannya? Semoga ini hanya satu contoh kasus salah.

Ki Hajar Dewantara, seorang yang di negeri ini tidak ada yang tidak mengakui ketokohannya sebagai GURU telah merangkum sebuah adagium yang luhur bagi guru.

Guru itu:

Ing Ngarsa Sung Tuladha,

Ing Madya Mangun Karsa,

Tut Wuri Handayani

Tidak ada satu posisipun yang menempati posisi guru dalam hal keluhurannya. Jika saja seorang yang dengan sadar mengambil posisi ini maka jalan menuju surga terbentang lebar.

Ing Ngarsa Sung Tuladha

Guru itu seorang pemimpin yang memberikan suri teladan yang baik bagi para siswanya. Ketika dia mengajarkan kejujuran, maka ia adalah orang yang paling jujur. Guru mengajarkan siswanya menjadi pemberani karena ia sendiri seorang pahlawan yang berani berkata benar walau pahit di hadapan penguasa yang zalim. Guru diikuti para siswa karena kharismanya. Kata-katanya berisikan nilai-nilai yang bisa dijadikan panduan meniti hidup yang semakin kompleks ini. Para siswa menuruti kata-katanya karena percaya bahwa hal tersebut akan menuntunnya menuju jalan kebenaran.

Ing Madya Mangun Karsa

Guru tidak hanya didepan saja memimpin para siswa. Tetapi juga berada diantara mereka. Sama tinggi sama rendah, seorang yang egaliter. Ia berdialog dengan para siswanya membangunkan semangat dari dalam diri mereka. Pertanyaan-pertanyaannya menggugah pemikiran membuat benak para siswa bergolak mencari hubungan yang bermakna. Guru tidak menganggap dirinya yang paling benar, yang paling berilmu diantara siswanya. Bersama para siswanya ia adalah pembelajar sejati. Berani berkata ”Aku tidak tahu,” ketika ditanya oleh siswanya dengan tujuan siswanya itu bergerak mencari jalan untuk mencari tahu.

Tut Wuri Handayani

Guru itu mengelola situasi dan kondisi sehingga para siswa merasa nyaman berinteraksi dengannya dan sesamanya. Pengaturan atmosfir belajar yang nyaman, aman serta tetap menantang membuat para siswa bergairah melakukan aktivitas mencari ilmu. Kadang dalam pencarian ilmu tersebut terjadi benturan atau gesekan antar siswa. Sesuatu yang wajar bagi para muda yang jiwanya masih bergolak. Guru memberikan fasilitas bagi para siswa itu untuk belajar bersosialisasi, bernegosiasi untuk mendapatkan keuntungan bersama, untuk maju bersama sesuai dengan kapasitas masing-masing. Tidak memaksa dan tidak pula memanipulasi jiwa dan pikiran para siswa. Guru memberikan alternatif-alternatif pilihan jalan yang bisa diplih para siswa itu untuk mencapai kesuksesannya masing-masing.

Alangkah naif jika mempertentangkan apakah guru itu seorang pemimpin atau manajer. Apalagi jika menyatakan bahwa guru sekedar profesi yang bila semakin tinggi kualifikasinya maka akan semakin tinggi pula remunerasinya. Seorang guru senior pernah berkata kepada para guru junior dalam sebuah pertemuan, “Jika kalian menganggap guru sekedar pekerjaan, maka kalian telah salah jalan.” Ia melanjutkan, “Menjadi guru adalah sebuah panggilan hidup, bukan sekedar pekerjaan.”

Seorang siswa SD saya pernah memberikan souvenir pengingat bagi saya. Souvenir itu sepotong kayu pinus seharga $9.00 bertuliskan:

2 Teach is

2 Touch a life

4 ever

Jakarta, 27 April 2010

S Agung Wibowo

*TKD = Tunjangan Kinerja Daerah. Uang tunjangan yang diberikan kepada guru di DKI.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.