<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Agung's Weblog</title>
	<atom:link href="http://agung1971.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agung1971.wordpress.com</link>
	<description>Catatan, pikiran dan ide-ide tentang guru, mengajar dan belajar</description>
	<lastBuildDate>Mon, 05 Dec 2011 10:57:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='agung1971.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Agung's Weblog</title>
		<link>http://agung1971.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://agung1971.wordpress.com/osd.xml" title="Agung&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://agung1971.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Teaching&#8230;</title>
		<link>http://agung1971.wordpress.com/2011/10/09/teaching/</link>
		<comments>http://agung1971.wordpress.com/2011/10/09/teaching/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 22:30:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>S Agung Wibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Guru]]></category>
		<category><![CDATA[quotation]]></category>
		<category><![CDATA[teaching]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agung1971.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;teaching is a personal way to touch the soul of young human, to motivate and to transfer the joy and passion of learning&#8230;&#8221; ( S Agung Wibowo)<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=148&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>&#8220;teaching is a personal way to touch the soul of young human, to motivate</strong><strong> and to transfer the joy and passion of learning&#8230;&#8221;</strong></p>
<p>( S Agung Wibowo)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agung1971.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agung1971.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agung1971.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agung1971.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agung1971.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agung1971.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agung1971.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agung1971.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agung1971.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agung1971.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agung1971.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agung1971.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agung1971.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agung1971.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=148&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agung1971.wordpress.com/2011/10/09/teaching/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e545575478932a39d3c582de0c130ff8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">S Agung Wibowo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Ingatan Bekerja (1)</title>
		<link>http://agung1971.wordpress.com/2011/04/23/bagaimana-ingatan-bekerja-1/</link>
		<comments>http://agung1971.wordpress.com/2011/04/23/bagaimana-ingatan-bekerja-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Apr 2011 10:53:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>S Agung Wibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saduran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agung1971.wordpress.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan tentang cara kerja otak menjadikan keuntungan pula bagi para guru. Proses belajar mengajar dapat disesuaikan dengan cara kerja otak sehingga menjadi lebih efisien dan hasil yang lebih baik. Artikel ini merupakan ringkasan dan komentar dari buku “Brain Matters: Translating Research into Classroom Practice” pada bagian bagaimana ingatan itu bekerja. Guru perlu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=149&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan tentang cara kerja otak menjadikan keuntungan pula bagi para guru. Proses belajar mengajar dapat disesuaikan dengan cara kerja otak sehingga menjadi lebih efisien dan hasil yang lebih baik. Artikel ini merupakan ringkasan dan komentar dari buku “Brain Matters: Translating Research into Classroom Practice” pada bagian bagaimana ingatan itu bekerja.</p>
<p>Guru perlu tahu tentang cara kerja otak, tentu saja tidak harus sekomprehensif para ilmuwan otak atauf dokter neurolog.  Berikut ini akan dibahas bagaimana ingatan atau memori itu bekerja. Tidak akan dibahas terlalu dalam, bagaimana informasi dikirim dari neuron ke neuron tetapi secara garis besar yang perlu diketahui oleh guru. Tentu saja dianjurkan untuk para guru terus belajar mencari informasi bagaimana otak itu bekerja agar pekerjaannya mengajar semakin baik.</p>
<p><strong>Ingatan</strong></p>
<p>Sebelum kita bahas bagaimana otak memproses ingatan ada baiknya memahami apa itu ingatan. Ingatan adalah sesuatu yang membuat kita bisa belajar dari pengalaman. Bahkan ingatan adalah hal yang penting untuk bertahan hidup. Secara fisiologis, Daniel J Siegel dari Universitas California memperkuat apa yang dikatakan Donal Hebb menyatakan ingatan terbentuk dari “Neuron yang memercik bersama, bertahan bersama, serta berhubungan saat yang bersamaan.” Pengalaman akan mengubah cara koneksi sinapsis terjadi dan meningkatkan kemungkinan percikan asosiasi dengan neuron lain. Ingatan itu sebuah proses, bukan sebuah benda atau satu kejadian tunggal.  Ketika sebuah peristiwa dialami, misal melihat seorang anak melihat Tugu Monas, maka secara simultan semua informasi yang ada saat itu diproses, cahaya pembentuk bayangan yang masuk ke mata, desiran angin yang menyentuh kulit, suara ibunya yang berkata, “Tugu Monas,” serta hal-hal lain yang berkaitan masuk ke otak dan menimbulkan percikan tidak hanya satu melainkan banyak neuron yang saling membentuk hubungan sinapsis pada kecepatan tinggi seakan-akan bersamaan, itulah yang membentuk ingatan “Tugu Monas. Sebuah proses yang kompleks dan rumit namun berlangsung sangat cepat.</p>
<p><strong>Model Pemrosesan Ingatan</strong></p>
<p>Patricia Wolfe membuatkan sebuah model bagaimana otak manusia bekerja ketika mengingat sesuatu.  Jika model tersebut dibuat ilustrasi, yang digambarkan pada gambar berikut ini:</p>
<p><a href="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/bagan-pemrosesan.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-150" title="bagan pemrosesan" src="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/bagan-pemrosesan.png?w=300&#038;h=204" alt="" width="300" height="204" /></a>Model di atas hanya menunjukkan fungsi, bukan secara struktural, artinya tidak dibahas di lokasi mana di bagian otak yang menyimpan ingatan indera, ingatan kerja atau ingatan jangka panjang. Juga tidak menunjukkan bagian-bagian terpisah yang berfungsi otonom.  Model tersebut hanya untuk mempermudah kita memahami cara kerja otak.</p>
<p><strong>Ingatan Indera</strong></p>
<p>Pada tahap ini semua informasi masuk, cahaya, suara, desir angin, dengan kecepatan yang luarbiasa. Anda yang sedang mengetik di depan komputer di ruang keluarga bersama anak-anak bermain serta televisi yang menyala menerima jutaan informasi. Pada saat inilah <strong>penyaring</strong> pada ingatan indera berfungsi. <strong>Hampir semua informasi yang masuk disaring dan 99 persennya dibuang</strong> tidak dilanjukan pada tahap pemrosesan lebih lanjut. Bayangkan kalau jutaan informasi yang masuk melalui indera tadi diproses oleh otak kita. Suara anak-anak bemain, cahaya TV yang berpendar, halusnya bahan celana yang kita pakai, desisan angin yang melalui jendela, deru motor di kejauhan semuanya diproses oleh otak kita. Kita tidak akan sanggup berpikir fokus.</p>
<p><a href="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/peran-ingatan-indera.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-152" title="peran ingatan indera" src="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/peran-ingatan-indera.png?w=300&#038;h=58" alt="" width="300" height="58" /></a></p>
<p>Sama dengan yang terjadi di kelas. Siswa mendapatkan jutaan informasi melalui inderanya. Hampir semuanya tidak diteruskan ke proses berikutnya.  Apa yang menjadikan informasi masuk ke proses selanjutnya? Hal ini harus diketahui para guru.</p>
<p><strong>Persepsi</strong></p>
<p>Informasi yang masuk berupa rangsangan mentah, cahaya, gambar, suara, sentuhan dan lain sebagainya. Misalnya gambar ini:</p>
<p><a href="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/gambar-b.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-153" title="gambar B" src="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/gambar-b.png?w=500" alt=""   /></a> Ini tidak berarti apa-apa bagi seorang anak usia 3 tahun yang belum belajar membaca huruf dan bilangan. Bisa dikatakan coretan itu tidak bermakna. Tetapi bagi kita, bila ditanyakan ini huruf apa maka akan menjawab huruf  “B” atau jika pertanyaannya bilangan berapa, maka ini adalah bilangan “13”.</p>
<p><strong>Perhatian</strong></p>
<p>Siswa-siswa sering dikatakan tidak memberikan perhatian. Para guru sering mengeluh, “sulit sekali menarik perhatian siswa saya.” Sebenarnya ini tidak tepat karena otak kita selalu memperhatikan apa yang terjadi pada lingkungan kita. Hanya saja yang menjadi perhatian para siswa itu bukan yag kita anggap penting. <strong>Perhatian itu sangat selektif</strong>. Sayangnya apa yang disampaikan guru kadang tidak menarik perhatian otak siswa. Ada beberapa hal yang bisa menjadi pemikiran bagi para guru agar merancang kegiatan belajarnya berdasarkan tiga hal yang akan dibahas berikut ini:</p>
<p><strong>a.      </strong><strong>Hal Baru</strong></p>
<p><strong>Kebaruan </strong>atau hal baru merupakan hal yang penting untuk menarik perhatian. Otak kita dirancang untuk memberikan perhatian kepada hal yang baru pada lingkungan. Ini masalah pertahanan diri untuk keselamatan. Nenek moyang kita yang masih berburu di alam bebas selalu mengamati lingkungan memperhatikan hal baru yang belum pernah terlihat sebelumnya, jejak kaki, patahan cabang, goresan kuku binatang dan lain sebagainya. Guru sejarah yang datang dengan pakaian Diponegoro untuk bercerita tentang sejarah perang Diponegoro 1625-1630 akan menarik perhatian siswa. Guru IPA membawa berbagai jenis hewan ke dalam kelas untuk menjelaskan tentang klasifikasi akan mendapat perhatian lebih dari pada hanya meminta siswa membaca buku paket.</p>
<p><strong>b.      </strong><strong>Intensitas Informasi</strong></p>
<p>Warna yang kontras, ukuran yang besar, suara yang merdu, akan menarik perhatian. Para pekerja yang bekerja di TV dan periklanan tahu tentang hal ini. Juga mereka yang bekerja di bidang pertujukan di panggung. Sehingga volume suara, perpaduan warna, ukuran media menjadi perhatian mereka. Jika ada dua rangsangan yang muncul bersamaan maka yang intensitasnya lebih yang akan mendapatkan perhatian lebih.  Sekarang ini banyak bermunculan metode pembelajaran yang menggunakan multimedia yang mengatur intensitas informasi sehingga yang paling relevan yang paling ditonjolkan.</p>
<p><strong>c.       </strong><strong>Gerakan</strong></p>
<p>Gerakan adalah faktor ketiga yang menarik perhatian. Secara umum kita tertarik kepada hal-hal yang bergerak dan dinamis. Anak-anak kecil mudah sekali tertarik dengan benda-benda yang bergerak. Kadang mereka menendang, melemparkan kaleng atau boneka hanya ingin tahu bagaimana benda tersebut bergerak.  Lampu neon iklan yang berkedip (seakan bergerak) akan lebih menarik perhatian dari pada lampu yang menyala statis. Alat peraga yang dapat dipindah, dibuka, ditutup, digerakkan maju, mundur, diputar akan jauh lebih menarik perhatian dari pada gambar yang statis.</p>
<p><strong>Makna dan Perhatian</strong></p>
<p>Pada awal tulisan ini saya menuliskan tentang “Monas” jika seseorang yang pernah melihat Monas atau membaca tentang tugu Monas saya minta memejamkan mata dan kemudian saya berkata bayangkan “Monas,” mungkin dia bisa membayangkan tugu Monas. Sedangkan orang Rusia yang belum pernah sama sekali datang ke Jakarta atau melihat gambar tugu Monas, kata tersebut tidak berarti apa-apa.  Juga coretan pada awal tulisan ini  yang bisa berarti bilangan 13 atau huruf B, itu hanya bermakna bagi seseorang yang pernah belajar tentang hal itu. Juga ketika kita menunggu di ruang dokter dan mengambil majalah kedokteran dan membuka artikel penyakit dalam bahasa Perancis mungkin akan cepat kita letakkan lagi karena apa yang tertulis di sana tidak bermakna bagi kita.  Jadi walaupun kita bisa membuat ketiga hal yang menarik perhatian tadi dalam proses pembelajaran tetapi kalau tidak berkaitan dengan apa yang sudah dikenali dahulu oleh otak siswa maka cenderung tidak akan diproses juga oleh otak siswa.  <strong>Otak kita mencari pola yang sudah dikenal.</strong></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/gambar-a.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-155" title="gambar a" src="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/gambar-a.png?w=500" alt=""   /></a></p>
<p>Apa yang Anda lihat? Tangan diberi gambar? Ular? Anjing? Semuanya tergantung dari pola apa yang pernah Anda dapatkan sebelumnya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Emosi dan Perhatian</strong></p>
<p>Robert Sylwester penulis <em>Celebration of Neurons</em> mengatakan “Emosi mengarahkan perhatian, dan perhatian mengarahkan pembelajaran.” Otak kita melalui indera yang kita miliki selalu melakukan pemindaian terhadap lingkungan di sekeliling kita. Untuk apa? Untuk bertahan hidup.  Ketika kita berjumpa atau tiba tiba ada hewan melata yang panjang tanpa kaki melintas di depan kaki kita. Kemungkinan besar tindakan kita adalah diam terpaku atau lari. Mengapa demikian? Karena otak kita memerintahkan kita untuk selamat.  Atau jika ada benda melayang dekat dengan kepala kita otomatis kita menunduk.  Jantung kita kemudian berdebar lebih cepat, mungkin juga muncul keringat dingin tiba-tiba.  Tindakan kita kadang irasional lebih kepada emosi dari pada berpikir secara logis. Itu juga yang terjadi pada siswa yang tiba-tiba saja terdiam ketika melihat seorang guru melintas karena ia tahu bahwa dia belum mengerjakan tugas, jadi berusaha untuk tidak terlihat atau terdengar oleh guru itu.</p>
<p>Dual hal di atas: Makna dan Emosi sangat berpengaruh terhadap pembelajaran. Dua hal yang bisa menyebabkan sebuah ingatan akan diproses ke tahap selanjutnya atau dibuang untuk tidak diproses ketahap selanjutnya. Tergantung bagaimana hal tersebut ada kaitan atau tidak dengan si pembelajar.</p>
<p><a href="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/makna-dan-emosi.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-156" title="makna dan emosi" src="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/makna-dan-emosi.png?w=300&#038;h=35" alt="" width="300" height="35" /></a></p>
<p>Implikasi hal ini kepada pembelajaran adalah guru harus merancang kegiatan belajar mengajar yang bermakna bagi siswa serta mempunyai tingkat emosi yang cukup agar menarik perhatian siswa sehingga bisa diproses pada tahap selanjutnya.</p>
<p><strong>Ingatan Kerja</strong></p>
<p>Pada bagian awal, pada proses ingatan memori semua berjalan tanpa kita sadari. Hampir semua proses dalam otak kita berlangsung tanpa kita sadari. Otak kita secara konstan memindai informasi yang ada di sekeliling kita, tujuannya adalah membuat kita selamat.  Meskipun demikian ada satu</p>
<p>yang penting <strong>jika informasi tersebut tidak diproses secara sadar maka kita tidak akan mengerti dan paham terhadap informasi yang masuk</strong>, bahkan untuk mengingat rangkaian nomor telepon baru yang disampaikan oleh kenalan baru kita.</p>
<p><a href="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/untitled.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-157" title="Untitled" src="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/untitled.png?w=300&#038;h=168" alt="" width="300" height="168" /></a>Meskipun memori kerja ini penting, kemampuan untuk mengingatnya pendek. Bahkan kita kadang langsung lupa lagi ketika selesai memutar nomor telepon baru rekan kita.</p>
<p>bersambung&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agung1971.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agung1971.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agung1971.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agung1971.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agung1971.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agung1971.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agung1971.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agung1971.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agung1971.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agung1971.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agung1971.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agung1971.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agung1971.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agung1971.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=149&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agung1971.wordpress.com/2011/04/23/bagaimana-ingatan-bekerja-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e545575478932a39d3c582de0c130ff8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">S Agung Wibowo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/bagan-pemrosesan.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">bagan pemrosesan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/peran-ingatan-indera.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">peran ingatan indera</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/gambar-b.png" medium="image">
			<media:title type="html">gambar B</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/gambar-a.png" medium="image">
			<media:title type="html">gambar a</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/makna-dan-emosi.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">makna dan emosi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/04/untitled.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Untitled</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membuka Jendela Dunia untuk Anak dengan membacakan Buku</title>
		<link>http://agung1971.wordpress.com/2011/03/21/membuka-jendela-dunia-untuk-anak-melalui-membacakan-buku/</link>
		<comments>http://agung1971.wordpress.com/2011/03/21/membuka-jendela-dunia-untuk-anak-melalui-membacakan-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2011 14:41:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>S Agung Wibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agung1971.wordpress.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Dunia anak-anak adalah dunia yang sangat menyenangkan. Apa yang dilihat, didengar, dicium, diraba, dan dirasa merupakan sesuatu yang baru dan menyenangkan. Semuanya dilihat dari mata anak-anak sangatlah menyenangkan. Ban bekas yang tergolek di tanah bisa menjadi permainan yang sangat menyenangkan. Digelindingkan kesana-kemari, dikejar dengan hati penuh ceria. Botol plastik bekas minuman bisa menjadi roket yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=139&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dunia anak-anak adalah dunia yang sangat menyenangkan. Apa yang dilihat, didengar, dicium, diraba, dan dirasa merupakan sesuatu yang baru dan menyenangkan. Semuanya dilihat dari mata anak-anak sangatlah menyenangkan. Ban bekas yang tergolek di tanah bisa menjadi permainan yang sangat menyenangkan. Digelindingkan kesana-kemari, dikejar dengan hati penuh ceria. Botol plastik bekas minuman bisa menjadi roket yang perkasa di tangan seorang anak, dengan gemuruh suara mesin dari mulutnya roket terbang ke angkasa tanpa batas. Dunia ini dijalani, dijelajahi dengan pikirannya yang terbuka untuk menemukan dan menerima hal-hal baru.</p>
<p>Kita orang dewasa, bisa menjadi pengganggu atau pembantu bagi anak-anak untuk mengalami sendiri dunia ini. Tentu pilihan pertama tidak akan kita harapkan, pilihan kedua adalah hal yang terbaik yang bisa kita lakukan. Bagaimana cara kita membantu anak-anak menemukan dunianya? Kadang-kadang lingkungan yang ada di sekitarnya terbatas. Orang dewasa yang berada di dekatnya tidak mau tahu kebutuhan dan keinginan mereka. Sekolah memberikan tugas, tugas dan tugas. Anak harus belajar ini belajar itu. Belajar adalah mencatat dan mengerjakan tugas.</p>
<p>Ada satu cara yang bisa dilakukan orang dewasa yang peduli terhadap perkembangan jiwa, perkembangan kecerdasan anak. Cara yang murah dan menyenangkan.  Anak-anak suka mendengarkan cerita. Mungkin ada di antara kita yang ketika kecil dahulu beruntung mendapatkan ayah atau ibu yang gemar bercerita. Cerita tentang kehidupan, cerita tentang kehormatan, cerita tentang kejujuran, cerita tentang persahabatan. Cerita-cerita itu membentuk kepribadian kita membentuk karakter kita.</p>
<p><a href="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/03/dsc05171.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-141" title="SONY DSC" src="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/03/dsc05171.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Berkelana dalam pikiran, takjub.</p>
<p>Saat ini, jika kita tidak bisa bercerita sendiri banyak buku telah ditulis untuk anak-anak. Buku-buku yang sesuai dengan perkembangan jiwa mereka. Buku-buku tentang dunia yang  penuh warna-warni, dunia yang penuh suara tawa dan kegembiraan, dunia dengan masalahnya yang membuat orang menjadi kuat secara fisik dan jiwa.  Kita bisa membuka jendela dunia kepada anak-anak, mewariskan kebijaksanaan, memberikan sarana berpikir, memberikan kesempatan mengalami konflik pemikiran dengan cara yang aman.</p>
<p>Mendengarkan cerita yang dibacakan merupakan hal yang sangat baik bagi anak-anak. Mereka bisa mengenal berbagai macam karakter, melalui intonasi bacaan, kata-kata yang yang berada di dalam konteksnya membuat mereka belajar bahasa dengan lebih cepat. Kosa kata akan berkembang seiring dengan banyaknya bacaan yang didengar dan disimak. Gambar-gambar yang sederhana, mudah dicerna, beragam warna akan membawa anak-anak ke alam pemikiran yang sangat kaya. Alur cerita yang berlainan membantu mereka mengamati kehidupan mereka sendiri, bagaimana mereka harus bersikap serta berhubungan dengan sesama.</p>
<p>Bacaan bermutu perlu dipilihkan orang dewasa untuk anak-anak yang akan diharapkan tumbuh menjadi generasi yang lebih tanggap, lebih bertanggung jawab, lebih peduli serta lebih cerdas dalam mencarikan solusi yang lebih ramah terhadap kemanusiaan dari generasi sebelumnya.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/03/img_7991.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-142" title="IMG_7991" src="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/03/img_7991.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" width="300" height="224" /></a> Berinteraksi dengan Cerita</p>
<p>Pilihan ada pada orang dewasa, apakah kita akan menjadi pengganggu anak-anak itu menjalani dunianya atau menjadi pembantu mereka mengenali dunia ini dengan membuka jendela dunia bagi mereka melalui buku.</p>
<p>Depok, 21 Maret 2011</p>
<p>S Agung Wibowo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agung1971.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agung1971.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agung1971.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agung1971.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agung1971.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agung1971.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agung1971.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agung1971.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agung1971.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agung1971.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agung1971.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agung1971.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agung1971.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agung1971.wordpress.com/139/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=139&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agung1971.wordpress.com/2011/03/21/membuka-jendela-dunia-untuk-anak-melalui-membacakan-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e545575478932a39d3c582de0c130ff8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">S Agung Wibowo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/03/dsc05171.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">SONY DSC</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/03/img_7991.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_7991</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teknik Mengajar dan Melatih (2)</title>
		<link>http://agung1971.wordpress.com/2011/03/02/teknik-mengajar-dan-melatih-2/</link>
		<comments>http://agung1971.wordpress.com/2011/03/02/teknik-mengajar-dan-melatih-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Mar 2011 23:51:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>S Agung Wibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelatihan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi intrinsik]]></category>
		<category><![CDATA[teknik mengajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agung1971.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[6 Kunci Strategies untuk membuka Motivasi Intrinsik dan Mencapai Kinerja yang Baik Keamanan Peserta harus merasa aman baik secara fisik maupun psikologis. Mendapatkan perlindungan dari cemoohan dan kehilangan muka atau harga diri.  Agar peserta berpartisipasi secara penuh pelatih harus mengusahakan rasa aman ini ada pada peserta. Cara menyanggah, menyampaikan kritikan dalam sebuah pelatihan harus dilakukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=133&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>6 Kunci Strategies untuk membuka </strong></p>
<p><strong>Motivasi Intrinsik dan Mencapai Kinerja yang Baik</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Keamanan</strong></li>
</ul>
<p>Peserta  harus merasa aman baik secara fisik maupun psikologis. Mendapatkan  perlindungan dari cemoohan dan kehilangan muka atau harga diri.  Agar  peserta berpartisipasi secara penuh pelatih harus mengusahakan rasa aman  ini ada pada peserta. Cara menyanggah, menyampaikan kritikan dalam  sebuah pelatihan harus dilakukan dengan cara yang bermartabat dan dalam  konteks mencari ilmu. Saling menghormati antara pelatih dan peserta  serta antara para peserta adalah menjadi sebuah keharusan.</p>
<ul>
<li><strong>Keberhasilan</strong></li>
</ul>
<p>Rasa  mendapatkan sesuatu. Rasa berhasil mencapai sesuatu dalam pelatihan  harus dimiliki oleh para peserta pelatihan. Pelatih harus mendesain  pelatihamnya sehingga seluruh peserta dapat mencapai sebuah keberhasilan  tertentu dalam proses pelatihan. Hal ini akan membuat mereka ingin  terus melanjutkan ke tingkat berikutnya.</p>
<ul>
<li><strong>Kebersamaan</strong></li>
</ul>
<p>Merasa  sebagai satu bagian, dihormati dan dihargai merupakan hal yang penting  bagi peserta.  Pelatih harus mengusahakan agar setiap peserta dalam  pelatihan terlibat dalam kegiatan. Peserta yang aktif harus diberi  kesempatan sementara peserta yang kurang aktif harus didorong untuk  berpartisipasi.  Hal ini penting karena pelatihan ini untuk semua yang  hadir bukan untuk orang-orang tertentu saja.</p>
<p>Dalam penyampaian pelatihan:</p>
<p>-          Samasekali meninggalkan sarkasme dan ejekan, baik dari pelatih maupun sesama peserta.</p>
<p>-          Menghindari situasi yang mengakibatkan satu atau beberapa peserta merasa tertinggal atau tidak merasa dihargai.</p>
<p>-           Menggunakan metode kepemimpinan yang efektif dalam membangun kerjasama,  saling mendukung dan sikap saling menghormati semua yang terlibat dalam  pelatihan.</p>
<p>-          Menggunakan variasi metode ”team building”  yang aman untuk mendukung kebersamaan kelompok, mendorong saling  menghormati antar peserta dan antar kelompok.</p>
<ul>
<li><strong>Kemerdekaan dan Kebebasan</strong></li>
</ul>
<p>Pilihan,  penghormatan terhadap pribadi, dan kebebasan dari tekana dan kontrol  yang manipulatif penting bagi semua. Desain pelatihan yang efektif dan  menarik akan membuat para peserta pelatihan terlibat dalam kegiatan  tanpa merasa terpaksa.</p>
<ul>
<li><strong>Kegembiraan </strong></li>
</ul>
<p>Suasana  yang menyenangkan membuat orang tidak tertekan, humor yang pas membuat  situasi rileks dan nyaman. Ini akan menghindarkan peserta dari kebosanan  atau frustasi yang menyebabkan mereka kehilangan ketertarikan terhadap  materi.</p>
<ul>
<li><strong>Tujuan yang Berharga</strong></li>
</ul>
<p>Peserta  pelatihan punya tujuan ketika mereka datang ke pelatihan. Maka pelatih  harus menghargai hal ini. Pelatih dapat mendesain:</p>
<ol>
<li>Pelatihan yang merupakan hal menjadi      ketertarikan peserta.</li>
<li>Pelatihan  yang merupakan sarana      memecahkan masalah bagi peserta. Peserta  akan lebih menghargai pelatihan      yang memberikan manfaat langsung  terhadap masalah mereka.</li>
<li>Bangun dan perkuat hubungan yang       positif dengan peserta (ini terutama bagi peserta yang datang karena  tugas      dari atasan, bukan karena kebutuhan), yakinkan kepada mereka  dengan      tindakan dan sikap serta perkataan dalam pelatihan yang  membuat mereka      melihat bahwa waktu, energi yang mereka berikan  merupakan hal berharga.</li>
</ol>
<p>Singkatnya peserta akan  belajar dan terlibat dengan penuh kesungguhan jika mereka melihat tujuan  belajar mereka atau usaha mereka dihargai dengan baik.</p>
<p>﻿</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agung1971.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agung1971.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agung1971.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agung1971.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agung1971.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agung1971.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agung1971.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agung1971.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agung1971.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agung1971.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agung1971.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agung1971.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agung1971.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agung1971.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=133&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agung1971.wordpress.com/2011/03/02/teknik-mengajar-dan-melatih-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e545575478932a39d3c582de0c130ff8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">S Agung Wibowo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun Budaya Membaca</title>
		<link>http://agung1971.wordpress.com/2011/02/28/membangun-budaya-membaca-di-sekolah/</link>
		<comments>http://agung1971.wordpress.com/2011/02/28/membangun-budaya-membaca-di-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Feb 2011 08:34:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>S Agung Wibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelatihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agung1971.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Membangun Budaya Membaca Membaca merupakan sebuah tradisi intelektual yang belum mengakar di Indonesia. Banyak sekali penyebabnya , dua diantaranya adalah kurangnya buku yang berkualitas dan menyenangkan di sekolah serta kurangnya kegiatan membaca atau tradisi membaca di sekolah. Mengapa di sekolah? Karena sekolah seharusnya yang menjadi pusat pengembangan budaya intelektual yang salah satu pondasinya adalah membaca.  [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=122&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Membangun Budaya Membaca<br />
</strong></p>
<p>Membaca merupakan sebuah tradisi intelektual yang belum mengakar di Indonesia. Banyak sekali penyebabnya , dua diantaranya adalah kurangnya buku yang berkualitas dan menyenangkan di sekolah serta kurangnya kegiatan membaca atau tradisi membaca di sekolah. Mengapa di sekolah? Karena sekolah seharusnya yang menjadi pusat pengembangan budaya intelektual yang salah satu pondasinya adalah membaca.  Karena itu selain sekolah harus mempunyai perpustakaan yang bagus dan memadai sekolah juga harus mempunyai program untuk membangun budaya membaca.</p>
<p>Pertanyaannya bagaimana memulainya? Tentu saja harus dimulai dari guru. Guru harus sadar bahwa ia adalah teladan bagi para siswanya. Perkataan guru akan lebih mengena jika guru juga melakukannya.  Karena siswa akan melihat apakah yang dikatakan gurunya selaras dengan perkataannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pelatihan Membangun Budaya Membaca</strong></p>
<p><a href="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/02/pp2-web1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-123" title="PP2-web1" src="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/02/pp2-web1.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Seorang Peserta berbagi isi buku yang dibacanya.</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 16-17 Februari 2011 di Kecamatan Merlung Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi ditengah perkebuan sawit,  Tanoto Foundation mengadakan pelatihan Pelita Pustaka tahap 2 berupa pelatihan Membangun Budaya Membaca. Pesertanya adalah lima sekolah dasar negeri yang terletak di dalam perkebunan sawit Asian Agri.</p>
<p><a href="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/02/pp1web11.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-126" title="PP1web1" src="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/02/pp1web11.jpg?w=199&#038;h=300" alt="" width="199" height="300" /></a></p>
<p>Membuat Catatan Bacaan</p>
<p>Selama dua hari para guru dan kepala sekolah mengikuti pelatihan Membangun Budaya Membaca yang disampaikan oleh pelatih dari CREDO, Bp. S Agung Wibowo dan Ibu Dina Riyanti. Dalam pelatihan tersebut peserta diajak berdikusi mengenai apa itu membaca, hal-hal yang menyebabkan siswa senang membaca, hal-hal yang menyebabkan siswa tidak mau membaca, berlatih membaca lantang untuk siswa baik bagi siswa kelas rendah maupun siswa kelas tinggi, membuat program membaca mandiri, bagaimana membantu siswa untuk lebih dekat serta paham apa yang dibaca,  serta berlatih membuat kegiatan yang menghubungkan antara buku-buku perpustakaan yang non-teks dengan pelajaran yang dipelajari di kelas.</p>
<p><a href="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/02/ekspresisf.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-127" title="ekspresisf" src="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/02/ekspresisf.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Peserta berlatih Membaca Lantang</p>
<p>Pelatihan berlangsung seru walau tetap serius. Para guru bahkan menyimak bagaikan anak-anak ketika dibacakan buku cerita dan konsentrasi penuh ketika membaca mandiri.  Para guru juga bersemangat ketika mengerjakan tugas layaknya siswa serta penuh eskpresi ketika berlatih membaca lantang untuk para peserta lain.</p>
<p>Jakarta,  28 Februari 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agung1971.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agung1971.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agung1971.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agung1971.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agung1971.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agung1971.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agung1971.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agung1971.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agung1971.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agung1971.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agung1971.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agung1971.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agung1971.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agung1971.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=122&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agung1971.wordpress.com/2011/02/28/membangun-budaya-membaca-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e545575478932a39d3c582de0c130ff8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">S Agung Wibowo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/02/pp2-web1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">PP2-web1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/02/pp1web11.jpg?w=199" medium="image">
			<media:title type="html">PP1web1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agung1971.files.wordpress.com/2011/02/ekspresisf.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ekspresisf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teknik Mengajar dan Melatih (1)</title>
		<link>http://agung1971.wordpress.com/2010/10/02/teknik-mengajar-dan-melatih-1/</link>
		<comments>http://agung1971.wordpress.com/2010/10/02/teknik-mengajar-dan-melatih-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Oct 2010 14:21:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>S Agung Wibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelatihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agung1971.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Teknik Mengajar dan Melatih (Terjemahan dan Ringkasan dari &#8220;Teaching and Training Techniques&#8221;, Spence Rogers) KONTEKS, ISI, PROSES: KONTEKS adalah kondisi dan lingkungan fisik dan emosi pada saat pembelajaran. Konteks fisik: ruang, cahaya, penataan meja, aroma, suara dll Konteks emosi: suasana perasaan yang timbul saat pelatihan maupun pembelajaran berlangsung. ISI adalah pengetahuan, keterampilan dan pemahaman yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=118&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teknik Mengajar dan Melatih<br />
(Terjemahan dan Ringkasan dari &#8220;Teaching and Training Techniques&#8221;, Spence<br />
Rogers)</p>
<p>KONTEKS, ISI, PROSES:</p>
<p>KONTEKS adalah kondisi dan lingkungan fisik dan emosi pada saat pembelajaran.<br />
Konteks fisik: ruang, cahaya, penataan meja, aroma, suara dll<br />
Konteks emosi: suasana perasaan yang timbul saat pelatihan maupun pembelajaran<br />
berlangsung.</p>
<p>ISI adalah pengetahuan, keterampilan dan pemahaman yang akan diterima si<br />
pembelajar. Isi harus dikelola dengan baik dan secara khusus didefinisikan<br />
sehingga bisa terlihat kelakuan yang teramati sehingga keberhasilan belajarnya<br />
dapat dikenali.</p>
<p>PROSES<br />
Dalam PROSES terdapat Gaya, Strategi dan Teknik yang dilakukan guru atau pelatih<br />
sehingga pembelajar dapat dijamin mencapai tujuan pembelajaran. Proses<br />
melibatkan apa yang dilakukan guru atau pelatih untuk mengelola ISI dan KONTEKS.</p>
<p>Gaya: merujuk kepada kepribadian pelatih atau guru yang memiliki pengalaman, dan<br />
cerita, yang muncul ketika mengajar dan belajar.</p>
<p>Strategi adalah langkah-langkah yang diambil ketika:<br />
• Membangun dan menjaga konteks yang efektif<br />
• Merancang dan menyampaikan isi<br />
• Menjamin bahwa tujuan pembelajaran tercapai</p>
<p>Teknik adalah cara yang sistematis yang menjamin strategi yang dijalankan<br />
berjalan dengan lancar untuk mencapai tujuan pembelajaran.</p>
<p>&#8230; <a href="http://agung1971.wordpress.com/2011/03/02/teknik-mengajar-dan-melatih-2/">bersambung</a></p>
<p>S Agung Wibowo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agung1971.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agung1971.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agung1971.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agung1971.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agung1971.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agung1971.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agung1971.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agung1971.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agung1971.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agung1971.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agung1971.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agung1971.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agung1971.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agung1971.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=118&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agung1971.wordpress.com/2010/10/02/teknik-mengajar-dan-melatih-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e545575478932a39d3c582de0c130ff8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">S Agung Wibowo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Guru</title>
		<link>http://agung1971.wordpress.com/2010/04/27/guru/</link>
		<comments>http://agung1971.wordpress.com/2010/04/27/guru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 18:27:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>S Agung Wibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agung1971.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Seorang rekan mempertanyakan kenapa saya mengajarkan agar guru menjadi manajer? Kenapa bukan pemimpin? Pertanyaan yang relevan dan mungkin patut direnungkan oleh semua orang yang dengan sadar maupun terpaksa menjadi guru. Sebelumnya saya ingin menyampaikan sebuah keluhan dalam hati yang terbersit ketika mendengarkan jawaban dari seorang guru ketika ia  ditanya apa yang membuatnya bahagia? Dia menjawab, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=111&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang rekan mempertanyakan kenapa saya mengajarkan agar guru menjadi manajer? Kenapa bukan pemimpin? Pertanyaan yang relevan dan mungkin patut direnungkan oleh semua orang yang dengan sadar maupun terpaksa menjadi guru.</p>
<p>Sebelumnya saya ingin menyampaikan sebuah keluhan dalam hati yang terbersit ketika mendengarkan jawaban dari seorang guru ketika ia  ditanya apa yang membuatnya bahagia? Dia menjawab, ”Ketika mendapatkan TKD*.” Serendah itukah, kebahagiaannya? Semoga ini hanya satu contoh kasus salah.</p>
<p>Ki Hajar Dewantara, seorang yang di negeri ini tidak ada yang tidak mengakui ketokohannya sebagai GURU telah merangkum sebuah adagium yang luhur bagi guru.</p>
<p>Guru itu:</p>
<p>Ing Ngarsa Sung Tuladha,</p>
<p>Ing Madya Mangun Karsa,</p>
<p>Tut Wuri Handayani</p>
<p>Tidak ada satu posisipun yang menempati posisi guru dalam hal keluhurannya. Jika saja seorang yang dengan sadar mengambil posisi ini maka jalan menuju surga terbentang lebar.</p>
<p>Ing Ngarsa Sung Tuladha</p>
<p>Guru itu seorang pemimpin yang memberikan suri teladan yang baik bagi para siswanya. Ketika dia mengajarkan kejujuran, maka ia adalah orang yang paling jujur. Guru mengajarkan siswanya menjadi pemberani karena ia sendiri seorang pahlawan yang berani berkata benar walau pahit di hadapan penguasa yang zalim. Guru diikuti para siswa karena kharismanya. Kata-katanya berisikan nilai-nilai yang bisa dijadikan panduan meniti hidup yang semakin kompleks ini. Para siswa menuruti kata-katanya karena percaya bahwa hal tersebut akan menuntunnya menuju jalan kebenaran.</p>
<p>Ing Madya Mangun Karsa</p>
<p>Guru tidak hanya didepan saja memimpin para siswa. Tetapi juga berada diantara mereka. Sama tinggi sama rendah, seorang yang egaliter. Ia berdialog dengan para siswanya membangunkan semangat dari dalam diri mereka. Pertanyaan-pertanyaannya menggugah pemikiran membuat benak para siswa bergolak mencari hubungan yang bermakna. Guru tidak menganggap dirinya yang paling benar, yang paling berilmu diantara siswanya. Bersama para siswanya ia adalah pembelajar sejati. Berani berkata ”Aku tidak tahu,” ketika ditanya oleh siswanya dengan tujuan siswanya itu bergerak mencari jalan untuk mencari tahu.</p>
<p>Tut Wuri Handayani</p>
<p>Guru itu mengelola situasi dan kondisi sehingga para siswa merasa nyaman berinteraksi dengannya dan sesamanya. Pengaturan atmosfir belajar yang nyaman, aman serta tetap menantang membuat para siswa bergairah melakukan aktivitas mencari ilmu. Kadang dalam pencarian ilmu tersebut terjadi benturan atau gesekan antar siswa. Sesuatu yang wajar bagi para muda yang jiwanya masih bergolak. Guru memberikan fasilitas bagi para siswa itu untuk belajar bersosialisasi, bernegosiasi untuk mendapatkan keuntungan bersama, untuk maju bersama sesuai dengan kapasitas masing-masing. Tidak memaksa dan tidak pula memanipulasi jiwa dan pikiran para siswa. Guru memberikan alternatif-alternatif pilihan jalan yang bisa diplih para siswa itu untuk mencapai kesuksesannya masing-masing.</p>
<p>Alangkah naif jika mempertentangkan apakah guru itu seorang pemimpin atau manajer. Apalagi jika menyatakan bahwa guru sekedar profesi yang bila semakin tinggi kualifikasinya maka akan semakin tinggi pula remunerasinya. Seorang guru senior pernah berkata kepada para guru junior dalam sebuah pertemuan, “Jika kalian menganggap guru sekedar pekerjaan, maka kalian telah salah jalan.” Ia melanjutkan, “Menjadi guru adalah sebuah panggilan hidup, bukan sekedar pekerjaan.”</p>
<p>Seorang siswa SD saya pernah memberikan souvenir pengingat bagi saya. Souvenir itu sepotong kayu pinus seharga $9.00 bertuliskan:</p>
<p>2 Teach is</p>
<p>2 Touch a life</p>
<p>4 ever</p>
<p>Jakarta, 27 April 2010</p>
<p>S Agung Wibowo</p>
<p>*TKD = Tunjangan Kinerja Daerah. Uang tunjangan yang diberikan kepada guru di DKI.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agung1971.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agung1971.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agung1971.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agung1971.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agung1971.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agung1971.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agung1971.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agung1971.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agung1971.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agung1971.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agung1971.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agung1971.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agung1971.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agung1971.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=111&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agung1971.wordpress.com/2010/04/27/guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e545575478932a39d3c582de0c130ff8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">S Agung Wibowo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Peraturan Kelas</title>
		<link>http://agung1971.wordpress.com/2010/04/08/tentang-peraturan-kelas/</link>
		<comments>http://agung1971.wordpress.com/2010/04/08/tentang-peraturan-kelas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 11:16:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>S Agung Wibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelatihan]]></category>
		<category><![CDATA[disiplin]]></category>
		<category><![CDATA[konsistensi]]></category>
		<category><![CDATA[peraturan kelas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agung1971.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Kelas dalam sebuah sekolah adalah lembaga masyarakat terkecil dimana para siswa belajar untuk berinteraksi satu sama lain juga dengan guru yang menjadi penanggung jawab kelas tersebut. Sebuah kelas yang berfungsi membutuhkan peraturan. Peraturan tersebut tidak dimaksudkan untuk membatasi gerak siswa namun sebagai penjelas ekspektasi tingkah laku atau perilaku semua anggota kelas tersebut. Peraturan kelas berlaku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=105&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kelas dalam sebuah sekolah adalah lembaga masyarakat terkecil dimana para siswa belajar untuk berinteraksi satu sama lain juga dengan guru yang menjadi penanggung jawab kelas tersebut. Sebuah kelas yang berfungsi membutuhkan peraturan. Peraturan tersebut tidak dimaksudkan untuk membatasi gerak siswa namun sebagai penjelas ekspektasi tingkah laku atau perilaku semua anggota kelas tersebut. Peraturan kelas berlaku kepada semua anggota kelas, termasuk guru yang ada di dalam kelas tersebut.</p>
<p>Agar peraturan kelas tersebut menjadi milik bersama maka harus dibahas bersama pula. Siswa dan guru perlu duduk bersama-sama membahas apa harapan dari semua warga kelas agar kelasnya bisa produktif sepanjang tahun.</p>
<p>Warga kelas perlu membahas nilai hidup bersama yang merupakan pengikat antar warga kelas agar semua kegiatan kelas bisa berlangsung dengan aman, nyaman dan menyenangkan bagi semua.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Peraturan untuk Peraturan</strong></p>
<p>Sebagai orang dewasa yang ada di dalam  kelas guru bertanggung jawab untuk membimbing para siswa membentuk peraturan kelas ini. Ada beberapa poin yang perlu dipegang ketika membuat peraturan kelas.</p>
<ul>
<li><strong>Peraturan dinyatakan dengan kalimat positif</strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong>Kita semua adalah makhluk berpikir. Kita dipengaruhi apa yang kita katakan atau kita sampaikan baik secara lisan atau secara tertulis. Kalimat yang positif membawa pengaruh yang positif pula terhadap tingkah laku kita. Contohnya: ”Semua warga kelas saling menghormati satu sama lain.” Kalimat ini akan jauh lebih baik dari pada kalimat: ”Dilarang mengganggu teman.” Kalimat yang kedua tersirat bahwa ada kegiatan negatif yang bisa dilakukan, yaitu mengganggu, tetapi tidak boleh. Akan terbersit pada benak siswa untuk mencoba kegiatan ”mengganggu” tersebut.</p>
<ul>
<li><strong>Peraturan sebaiknya sedikit saja</strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong>Peraturan yang terlalu banyak cenderung mengisyaratkan pengekangan. Tidak ada manusia yang suka dikekang. Apalagi jika peraturannya lebih dari 20 peraturan serta berisi: Tidak boleh ini, tidak boleh itu, dilarang ini, dilarang itu, dll. Para siswa akan merasa dirinya terpenjara. Dan cenderung peraturan-peraturan tersebut tidak akan diingat, selalin terlalu banyak juga dianggap pengekanga terhadap kebebasan siswa dan warga kelas lainnya.<strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Peraturan harus bisa ditegakkan</strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong>Peraturan yang tidak bisa ditegakkan sebaiknya diganti atau dihapus saja. Karena ini merupakan kesepakatan semua warga kelas maka peraturan harus diterapkan kepada semua warga kelas. Misalnya ada peraturan yang mewajibkan harus membayar Rp. 500 pada setiap keterlambatan dan pada pelaksanaannya tidak bisa berjalan dengan baik maka semua warga kelas harus berpikir ulang bagaimana membuat peraturan tentang waktu yang bisa ditaati oleh semuanya.</p>
<ul>
<li><strong>Peraturan perlu dibuat bersama siswa</strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong>Peraturan ini untuk semua warga kelas. Siswa adalah mayoritas dari warga kelas, maka mereka berhak untuk membuat peraturan bagi mereka sendiri. Guru bertindak sebagai fasilitator agar peraturan merupakn kesepakatan yang positif bagi produktifitas kelas tersebut. Peran guru juga membantu siswa agar memahami bahwa pearturan itu dimaksudkan agar semua kegiatan belajar bisa berlangsung dengan baik.<strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Peraturan harus memuat konsekuensi<br />
</strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong>Peraturan tanpa sanksi atau konsekuensi akan membuat siswa dan guru mengabaikannya. Maka jika terjadi pelanggaran harus ada yang terjadi. Pelanggar peraturan harus menjalankan konsekuensi dari perbuatannya.</p>
<p><strong>Contoh peraturan kelas:</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Tepat Waktu</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Menghormati semua orang</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Bersungguh-sungguh dalam pekerjaan</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Bekerja dengan gembira</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Penegakan Peraturan</strong></p>
<p>Siswa dan guru perlu bersepakat tentang bagaimana peraturan yang telah disusun bersama itu ditegakkan.  Dalam hal ini dari peraturan yang tertulis tersebut harus diperjelas ekspektasinya. Misalnya tepat waktu: jam berapa harus masuk, kapan batas waktu menyerahkan tugas, kapan harus pulang. Semuanya harus konkrit. Apa arti menghormati setiap orang? Apakah memotong pembicaraan termasuk pelanggaran? Apakah mengambil barang milik orang lain termasuk pelanggaran. Itu semua juga harus dikonkritkan.</p>
<p>Setelah semua jelas, maka kemudian sanksi atau konsekuensi juga harus didiskusikan. Konsep yang sama harus dijalankan: sanksi harus jelas juga terukur. Tidak tiba-tiba dan harus diketahui oleh semua warga kelas. Konsekuensi juga harus dinyatakan dalam bentuk yang positif. Konsekuensi juga harus ditegakkan secara konsisten dan berlaku adil untuk semua warga kelas.</p>
<p><strong>Intervensi 30 Detik</strong></p>
<p>Sebagai orang dewasa yang bertindak sebagai pembimbing di dalam kelas, guru punya kewajiban untuk menegakkan peraturan tanpa harus memberatkan dirinya dan siswanya. Pada awal-awal sosialisasi peraturan ada sebuah metode yang bisa dilakukan: intervensi 30 detik.</p>
<p>Prosesnya sebagai berikut:</p>
<p>-         Tatapan mata mengingatkan tanpa bicara, kepada siswa yang berpotensi melakukan pelanggaran.</p>
<p>-         Dekati siswa, berdiri disampingnya tanpa bicara.</p>
<p>-         Dekati siswa, sampaikan secara lisan bahwa dia harus bekerja sama dengan suara yang hanya didengar oleh dia dan teman disampingnya.</p>
<p>Jika ini dilakukan secara konsisten, maka kemungkinan besar seterusnya kelas akan berlangsung dengan produktif tanpa ada pelanggaran yang berarti yang harus mengakibatkan jatuhnya sanksi atau konsekuensi.</p>
<p><strong>Konsentrasi pada hal-hal positif</strong></p>
<p>Para siswa akan memberikan tanggapan yang positif terhadap guru yang berpandangan dan bersikap positif pula. Beri perhatian dan dukungan secara penuh terhadap hal-hal baik yang terjadi selama kegiatan kelas berlangsung. Sampaikan hal-hal berikut ini dengan tulus:</p>
<p style="text-align:center;">”Terima kasih telah bekerja sama.”</p>
<p style="text-align:center;">”Hari ini kalian telah menunjukkan kesungguhan.”</p>
<p style="text-align:center;">”Pekerjaan kalian tepat waktu.”</p>
<p style="text-align:center;">”Semuanya selesai dengan baik.”</p>
<p style="text-align:center;">”Pertandingan ini berlangsung sangat sportif.”</p>
<p style="text-align:center;">”Kamu telah berusaha dengan keras. ”</p>
<p><strong>Guru adalah pemantau bukan penghukum</strong></p>
<p>Jika terjadi pelanggaran, guru tidak perlu marah. Ini bukan serangan terhadap pribadi dan kehormatan Anda. Siswa mungkin sedang berusaha memenuhi kebutuhan internal dirinya tanpa sadar telah melanggar hak orang lain atau kesepakatan yang telah menjadi peraturan. Bersikaplah profesional, tunjukkan peraturan yang telah dilanggar sampaikan konsekuensinya dengan tegas dan konsisten. Tanpa harus marah, membentak apalagi berteriak. Semua hal tersebut adalah energi negatif yang akan merusak pribadi Anda.</p>
<p><strong>Sanksi atau Konsekuensi</strong></p>
<p>Ketika membahas sanksi atau konsekuensi dengan para siswa perlu diingat hal-hal sebagai berikut:</p>
<p>-         Harus sesuai dengan perbuatan. Amat tidak relevan jika siswa yang datang terlambat dihukum berdiri di lapangan selama 1 jam. Siswa tersebut sudah kehilangan hak belajarnya ketika terlambat. Sanksi yang pantas adalah mengganti waktu belajar yang hilang, misalnya kehilangan waktu istirahat untuk mencatat atau mengerjakan pekerjaan yang tertinggal.</p>
<p>-         Sanksi tidak boleh menyakiti siswa baik secara fisik ataupun secara psikologis. Karena hal ini akan mengakibatkan luka fisik atau psikologis.</p>
<p>-         Agar siswa sadar bahwa ini adalah peringatan, maka siswa harus merasa tidak nyaman dengan sanksi tersebut. Bisa saja dengan mencabut hak siswa selama beberapa waktu, misalnya hak bermain waktu istirahat, hak untuk duduk bersama sahabatnya, hak untuk bicara selama kelas berlangsung. Atau sanksi berupa pekerjaan sosial yang relevan dengan pelanggaran. Misal pelanggaran mencoret-coret tembok, sanksinya adalah membersihakan tembok yang dikotorinya dan ditambah dengan tembok lain yang kotor walaupun bukan dia yang mengotorinya.<strong> </strong></p>
<p>-         Juga harus diingat bahwa hak asasi siswa di sekolah adalah belajar. Sanksi tidak boleh melanggar hak ini. Misalkan skorsing tanpa ada tugas sekolah. Tujuan skorsing adalah untuk memberikan waktu berpikir bagi siswa untuk menyadari bahwa tindakannya salah bukan untuk mencabut hak asasinya.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Contoh Dalog Penegakan Peraturan</strong></p>
<p>Guru: ”Tono, kamu datang terlambat.”</p>
<p>Tono: ”Tapi Pak, itu karena jam saya mati.”</p>
<p>Guru: ”Kamu datang terlambat 10 menit, kamu tahu konsekuensinya   kehilangan  istirahat 10 menit.”</p>
<p>Tono: ”Tapi Pak…”</p>
<p>Guru: ”Saya tunggu di kelas nanti jam istirahat. Terima kasih karena sudah bertanggungjawab.”</p>
<p>Kasus: Dini menyobek buku Ita karena diganggu.</p>
<p>Guru: Dini, saya tahu kamu marah karena diganggu Ita.</p>
<p>Dini: Tapi Pak, Ita yang mulai duluan.</p>
<p>Guru: Kamu merusak milik orang lain. Bagaimana kamu akan memperbaiki hal itu?</p>
<p>Dini: Tapi Pak…</p>
<p>Guru: Kamu tahu, kamu harus duduk di pojok dan harus berpikir bagaimana memperbaiki hubungan kamu dengan Ita. Saya tahu kamu siswa yang bertanggung jawab. Ita juga akan berpikir bagaimana ia harus memperbaiki hubungan ini.</p>
<p>Kasus ditutup dengan kedua siswa mendapatkan sanksi dan harus memikirkan bagaimana mereka bisa berdamai.</p>
<p><strong>Proses Konsistensi yang Berkelanjutan</strong></p>
<p>Tidak selamanya siswa berada di sekolah. Ada hari libur, ada hari Minggu dan lain sebagainya yang kadang membuat siswa tidak bisa konsisten dengan apa yang telah disepakati. Itu wajar. Juga adanya masa-masa mencari jatidiri dan pemberontakan yang ada pada diri siswa. Di sini dibutuhkan para guru yang sabar untuk tetap konsisten dengan profesionalisme yang telah menjadi kesanggupannya sejak dia masuk menjadi guru. Guru perlu selalu konsisten dan menjadi teladan bagi para siswanya dalam menegakkan peraturan.</p>
<p>8 April 2010</p>
<p>Setiawan Agung Wibowo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agung1971.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agung1971.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agung1971.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agung1971.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agung1971.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agung1971.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agung1971.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agung1971.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agung1971.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agung1971.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agung1971.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agung1971.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agung1971.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agung1971.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=105&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agung1971.wordpress.com/2010/04/08/tentang-peraturan-kelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e545575478932a39d3c582de0c130ff8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">S Agung Wibowo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dilema mengajar: Isi atau Cara Berpikir?</title>
		<link>http://agung1971.wordpress.com/2010/03/29/dilema-mengajar-isi-atau-cara-berpikir/</link>
		<comments>http://agung1971.wordpress.com/2010/03/29/dilema-mengajar-isi-atau-cara-berpikir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 09:14:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>S Agung Wibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelatihan]]></category>
		<category><![CDATA[berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[cara berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[isi]]></category>
		<category><![CDATA[konsep]]></category>
		<category><![CDATA[mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agung1971.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Kalau kita cermati buku-buku teks untuk siswa hampir semuanya berisi informasi. Proses pembelajaran yang terjadi dalam kelas pun isinya penuangan informasi yang ada dalam buku. Kemudian pada akhir semester dan akhir tahun ketika ujian tiba, para siswa juga diuji seberapa banyak informasi yang dapat mereka ungkapkan kembali. Isi ujian adalah: nama benda, tanggal, tokoh, tempat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=100&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau kita cermati buku-buku teks untuk siswa hampir semuanya berisi informasi. Proses pembelajaran yang terjadi dalam kelas pun isinya penuangan informasi yang ada dalam buku. Kemudian pada akhir semester dan akhir tahun ketika ujian tiba, para siswa juga diuji seberapa banyak informasi yang dapat mereka ungkapkan kembali. Isi ujian adalah: nama benda, tanggal, tokoh, tempat kejadian, nama proses, kejadian penting, definisi, rumus, bahkan dalam kesenian pun pertanyaan ujian: Apa judul karya ini? Siapa tokoh aliran musik itu?</p>
<p>Kita, orang awam, bahkan guru dan pendidik masih terkagum-kagum dengan banyaknya informasi yang bisa diungkap kembali oleh oleh seseorang. Penghargaan terhadap hal ini sangat tinggi, bahkan seseorang bisa masuk museum rekor dengan menghafalkan nama presiden sedunia, mengingat nomor telepon dalam buku telepon, menyebutkan nama-nama pemain bola dll. Bukannya tidak menghargai kemampuan menghafal. Tetapi pertanyaannya adalah: Selanjutnya apa? Untuk apa semua itu? </p>
<p><strong>Menuangkan Isi</strong><br />
Proses pembelajaran paling mudah memang belajar isi suatu topik. Dalam sejarah misalnya: tanggal peristiwa, nama tokoh proklamasi, nama pemberontak PRRI, kapan dan di mana terjadinya. Hal yang nyaman bagi guru dan siswa untuk berinteraksi. Mudah bagi guru untuk menyiapkan pelajaran, membuat soal dan menilainya. Bagi siswa, hal ini mudah  untuk menghafalkannya serta menjawab pertanyaan dalam ulangan atau ujian. Pertanyaan selanjutnya: Apakah itu berguna bagi siswa di luar sekolah? Apa yang hendak dibawa oleh siswa setelah lulus nanti?</p>
<p><strong>Mengajarkan Cara Berpikir</strong><br />
Amat jarang guru yang memikirkan pertanyaan inti dari sebuah pelajaran. Mengapa saya harus mengajarkan topik ini? Mengapa topik ini penting bagi siswa saya? Mengapa para ilmuwan sejarah berbeda pandangan tentang peritiwa yang terjadi pada 30 September 1965? Bagaimana mereka bisa mencapai kesimpulan seperti itu? Apa yang mereka pikirkan? Bagaimana jika fakta-fakta yang ada dilihat dari berbagai sudut pandang? </p>
<p>Jika saja pertanyaan-pertanyaan ini diajukan ketika seorang guru hendak menyiapkan silabus dan rencana pembelajaran dapat dibayangkan betapa berbedanya proses pembelajaran yang terjadi. Siswa akan diajak berpikir mengenai cara berpikir itu sendiri. Proses kejadian dalam sejarah bukan proses tunggal. Mereka saling berkaitan satu sama lain. Interpretasi terhadap apa yang terjadi juga bisa berbeda berdasarkan posisi sosial, politik, pandangan agama dan lain sebagainya. Yang akan terjadi dalam proses pembelajaran adalah sebuah pergulatan pemikiran antar siswa, siswa dengan guru dan juga antar guru. </p>
<p><strong>Dilema</strong><br />
Mana yang hendak dipilih? Menuang informasi yang dengan itu hasilnya mudah diketahui dan siswa bisa lulus ujian dengan mudah karena ujian saat ini masih mengacu kepada pembelajaran model ini. Atau mengajarkan proses berpikir dengan hasil yang akan terbawa sampai dewasa, tertanam kuat pada siswa namun sisah untuk menilainya serta dengan resiko siswa sulit lulus ujian karena tidak banyak mengetahui informasi. Pertanyaannya: Apakah memang itu pilihannya? Atau ada jalan keluar lain?</p>
<p>S Agung Wibowo<br />
29 Maret 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agung1971.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agung1971.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agung1971.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agung1971.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agung1971.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agung1971.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agung1971.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agung1971.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agung1971.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agung1971.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agung1971.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agung1971.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agung1971.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agung1971.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=100&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agung1971.wordpress.com/2010/03/29/dilema-mengajar-isi-atau-cara-berpikir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e545575478932a39d3c582de0c130ff8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">S Agung Wibowo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lima Jenis Orang Tua</title>
		<link>http://agung1971.wordpress.com/2010/03/17/lima-jenis-orang-tua/</link>
		<comments>http://agung1971.wordpress.com/2010/03/17/lima-jenis-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 23:30:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>S Agung Wibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[parenting]]></category>
		<category><![CDATA[posisi kontrol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agung1971.wordpress.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita mau berhenti sejenak dan merenungkan tentang gaya dan karakter kita sebagai orang tua maka kita akan menemukan bahwa jenis orang tua itu bervariasi. Gaya kita ketika mendidik anak-anak akan terlihat pada sikap dan perbuatan yang kita ketika mendapatkan masalah. Jenis orang tua yang pertama adalah orang tua PENGHUKUM. Orang tua yang bergaya seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=96&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika kita mau berhenti sejenak dan merenungkan tentang gaya dan karakter kita sebagai orang tua maka kita akan menemukan bahwa jenis orang tua itu bervariasi. Gaya kita ketika mendidik anak-anak akan terlihat pada sikap dan perbuatan yang kita ketika mendapatkan masalah. </p>
<p>	Jenis orang tua yang pertama adalah orang tua PENGHUKUM. Orang tua yang bergaya seperti ini tidak punya peraturan yang jelas. Anak-anaknya melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu karena takut dengan orangtuanya. Orang tua jenis ini jika mendapatkan masalah dengan anaknya akan: berteriak, mengancam, marah, mengkritik, kata-katanya tajam, menghina bahkan yang paling parah memberikan hukuman fisik. Yang umum dikatakan adalah, ”Kerjakan ini, awas kalau tidak!” Dengan suara tajam dan sikap mengancam.</p>
<p>	Jenis orang tua yang berikutnya adalah orang tua yang menimpakan kesalahan pada anaknya, membuat anaknya merasa bersalah. Jenis ini bisa disebut PEMBUAT RASA BERSALAH.  Biasanya orang tua jenis ini dengan kata-katanya yang lembut, namun tajam, menyindir, menunjukkan ketidaksetujuan pada perbuatan anaknya. Atau kadang malah memberikan kesan lemah, sakit dan lain sebagainya yang menimbulkan perasaan tidak nyaman, kasihan, dan bersalah pada diri si anak. Yang biasa terdengar dari orang tua jenis ini adalah. ”Kenapa kamu, lakukan itu sayang? Apa kamu nggak kasihan pada Ayahmu yang telah bekerja dengan keras?” Nada suaranya memelas, lembut. </p>
<p>	Jenis yang ketiga akan membuat anak merasa lebih nyaman untuk berinteraksi dengan ayah dan ibunya. Orang tua jenis ini adalah jenis TEMAN. Strategi senyum, bersahabat serta canda akan digunakan oleh orang tua jenis ini untuk membuat anak melakukan apa yang diinginkannya. Sikap ini akan disukai oleh anak-anak. Namun dalam jangka panjang akan menimbukan sikap ketergantungan pada si anak. Karena orang tua jenis ini juga tidak punya harapan atau aturan yang jelas. Pada akhirnya anak akan selalu tergantung pada orang tua membuatnya sulit untuk punya rasa tanggung jawab. Kadang jika cara teman ini tidak berhasil maka orang tua jenis ini akan menjadi jenis pertama atau kedua. Jika ini dilakukan akan membuat anak berkata ”Aku pikir Ibu temanku!” Gaya teman ini tidak buruk namun punya keterbatasan karena tidak membangun sikap mandiri pada anak.</p>
<p>	Berikutnya adalah jenis orang tua yang dikategorikan sebagai PEMANTAU atau MONITOR.  Pada gaya orang tua jenis ini anak akan dihadapkan pada berbagai peraturan, disiplin dengan hukuman dan hadiah, konsekuensi positif dan negatif. Anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan orang tua jenis ini akan belajar bahwa masyarakat punya aturan dan batasan. Jika ada kesalahan, maka orang tua akan berkata, ”Ini kesalahanmu dan konsekuensinya kamu harus melakukan ini!” Jika ada perbuatan positif yang dilakukan anak, maka biasanya orang tua akan memberikan penghargaan baik berupa materi atau ungkapan kata-kata. Orang tua jenis ini akan berkata, ”Hari Ahad depan jika kalian bersikap baik selama satu pekan kita akan piknik bersama-sama.” Gaya atau sikap monitor ini jauh lebih baik dari pada tiga gaya yang disebutkan pada awal artikel ini. Apalagi jika orangtua bisa konsisten dengan peraturan dan disiplin yang diterapkan. Namun bagi anak, kondisi seperti ini akan membosankan. Mereka akan mematuhi peraturan jika orang tua ada. Pada saat tertentu mereka akan berusaha mencari cara untuk lepas dari peraturan (kadang berhasil). </p>
<p>	Pada jenis orang tua yang pertama dan kedua: PENGHUKUM dan PEMBUAT RASA BERSALAH muncul dari pandangan hirarkis, bahwa anak adalah adalah perwujudan perpanjangan eksistensi orang tua. Sikap yang timbul sebenarnya adalah sikap tidak nyaman dalam diri orang tua itu sendiri. Posisi yang diambil orang tua pada kedua jenis ini adalah: kontrol negatif. Mereka bereaksi jika ada hal negatif yang muncul.  Orang tua jenis TEMAN dan PEMANTAU melakukan apa yang disebut kontrol positif. Mereka beranggapan bahwa anak-anak punya sistem kontrol sendiri, namun untuk menjadi lebih baik harus dikontrol dari luar.<br />
Keempat jenis orang tua ini menyiratkan bahwa orang tua bisa mengontrol anak-anak. </p>
<p>	MANAJER, jenis orang tua yang kelima. Orang tua jenis ini akan bersabar untuk berdialog, mengkomunikasikan nilai-nilai keluarga pada anak. Anak-anak diajak berdiskusi bagaimana menjadi keluarga dan anggota keluarga yang baik. Seluruh anggota keluarga mendapatkan gambaran yang jelas tentang nilai, kepercayaan dan landasan hidup keluarga. Seluruh anggota keluarga jelas posisinya dan bagaimana harus bersikap dan menyikapi sesuatu. Ini bisa dikatakan bahwa manajer keluarga membuat kontrak sosial dengan seluruh anggota keluarga. Kontrak ini mengikat semua anggota keluarga. Setelah semuanya paham dan jelas, jika terjadi masalah atau akan memecahkan persoalan maka yang terjadi adalah dialog, ”Apa yang kita percayai? Apakah kamu percaya terhadap hal ini? Jika kamu percaya, maka bagaimana kamu bisa memperbaiki hal ini? Jika kamu percaya, maka jalan keluar apa yang akan kamu pilih?”</p>
<p>	Orang tua jenis ini tidak menitikberatkan pada konsekuensi, positif atau negatif, penghargaan atau sanksi, tetapi akan berusaha memperkuat kepribadian si anak. Jika sebuah kesalahan terjadi, maka fokusnya adalah perbaikan. Kesalahan sudah terjadi, itu tidak perlu diperpanjang yang menjadi tujuan adalah bagaimana cara memperbaiki kerusakan itu dan bagaimana peristiwa ini bisa memperkuat pribadi anak. </p>
<p>	Dengan mengetahui adanya jenis-jenis orang tua ini akan memberi kesadaran kepada kita bahwa ada alternatif yang lebih baik untuk keluarga kita. Kita bisa memilih jenis orang tua yang seperti apa yang akan kita perankan. Pilihan itu akan menentukan situasi dan kondisi yang akan kita hadapi sebagai orang tua.</p>
<p>Wallahu’alam</p>
<p>S Agung Wibowo<br />
Bacaan: Restitution: Restructuring School Discipline<br />
TELAH Dikirimkan untuk artikel IFSA SEKOLAH ALAM INDONESIA</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agung1971.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agung1971.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agung1971.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agung1971.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agung1971.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agung1971.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agung1971.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agung1971.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agung1971.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agung1971.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agung1971.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agung1971.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agung1971.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agung1971.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agung1971.wordpress.com&amp;blog=3404889&amp;post=96&amp;subd=agung1971&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agung1971.wordpress.com/2010/03/17/lima-jenis-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e545575478932a39d3c582de0c130ff8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">S Agung Wibowo</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
