Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan tentang cara kerja otak menjadikan keuntungan pula bagi para guru. Proses belajar mengajar dapat disesuaikan dengan cara kerja otak sehingga menjadi lebih efisien dan hasil yang lebih baik. Artikel ini merupakan ringkasan dan komentar dari buku “Brain Matters: Translating Research into Classroom Practice” pada bagian bagaimana ingatan itu bekerja.
Guru perlu tahu tentang cara kerja otak, tentu saja tidak harus sekomprehensif para ilmuwan otak atauf dokter neurolog. Berikut ini akan dibahas bagaimana ingatan atau memori itu bekerja. Tidak akan dibahas terlalu dalam, bagaimana informasi dikirim dari neuron ke neuron tetapi secara garis besar yang perlu diketahui oleh guru. Tentu saja dianjurkan untuk para guru terus belajar mencari informasi bagaimana otak itu bekerja agar pekerjaannya mengajar semakin baik.
Ingatan
Sebelum kita bahas bagaimana otak memproses ingatan ada baiknya memahami apa itu ingatan. Ingatan adalah sesuatu yang membuat kita bisa belajar dari pengalaman. Bahkan ingatan adalah hal yang penting untuk bertahan hidup. Secara fisiologis, Daniel J Siegel dari Universitas California memperkuat apa yang dikatakan Donal Hebb menyatakan ingatan terbentuk dari “Neuron yang memercik bersama, bertahan bersama, serta berhubungan saat yang bersamaan.” Pengalaman akan mengubah cara koneksi sinapsis terjadi dan meningkatkan kemungkinan percikan asosiasi dengan neuron lain. Ingatan itu sebuah proses, bukan sebuah benda atau satu kejadian tunggal. Ketika sebuah peristiwa dialami, misal melihat seorang anak melihat Tugu Monas, maka secara simultan semua informasi yang ada saat itu diproses, cahaya pembentuk bayangan yang masuk ke mata, desiran angin yang menyentuh kulit, suara ibunya yang berkata, “Tugu Monas,” serta hal-hal lain yang berkaitan masuk ke otak dan menimbulkan percikan tidak hanya satu melainkan banyak neuron yang saling membentuk hubungan sinapsis pada kecepatan tinggi seakan-akan bersamaan, itulah yang membentuk ingatan “Tugu Monas. Sebuah proses yang kompleks dan rumit namun berlangsung sangat cepat.
Model Pemrosesan Ingatan
Patricia Wolfe membuatkan sebuah model bagaimana otak manusia bekerja ketika mengingat sesuatu. Jika model tersebut dibuat ilustrasi, yang digambarkan pada gambar berikut ini:
Model di atas hanya menunjukkan fungsi, bukan secara struktural, artinya tidak dibahas di lokasi mana di bagian otak yang menyimpan ingatan indera, ingatan kerja atau ingatan jangka panjang. Juga tidak menunjukkan bagian-bagian terpisah yang berfungsi otonom. Model tersebut hanya untuk mempermudah kita memahami cara kerja otak.
Ingatan Indera
Pada tahap ini semua informasi masuk, cahaya, suara, desir angin, dengan kecepatan yang luarbiasa. Anda yang sedang mengetik di depan komputer di ruang keluarga bersama anak-anak bermain serta televisi yang menyala menerima jutaan informasi. Pada saat inilah penyaring pada ingatan indera berfungsi. Hampir semua informasi yang masuk disaring dan 99 persennya dibuang tidak dilanjukan pada tahap pemrosesan lebih lanjut. Bayangkan kalau jutaan informasi yang masuk melalui indera tadi diproses oleh otak kita. Suara anak-anak bemain, cahaya TV yang berpendar, halusnya bahan celana yang kita pakai, desisan angin yang melalui jendela, deru motor di kejauhan semuanya diproses oleh otak kita. Kita tidak akan sanggup berpikir fokus.
Sama dengan yang terjadi di kelas. Siswa mendapatkan jutaan informasi melalui inderanya. Hampir semuanya tidak diteruskan ke proses berikutnya. Apa yang menjadikan informasi masuk ke proses selanjutnya? Hal ini harus diketahui para guru.
Persepsi
Informasi yang masuk berupa rangsangan mentah, cahaya, gambar, suara, sentuhan dan lain sebagainya. Misalnya gambar ini:
Ini tidak berarti apa-apa bagi seorang anak usia 3 tahun yang belum belajar membaca huruf dan bilangan. Bisa dikatakan coretan itu tidak bermakna. Tetapi bagi kita, bila ditanyakan ini huruf apa maka akan menjawab huruf “B” atau jika pertanyaannya bilangan berapa, maka ini adalah bilangan “13”.
Perhatian
Siswa-siswa sering dikatakan tidak memberikan perhatian. Para guru sering mengeluh, “sulit sekali menarik perhatian siswa saya.” Sebenarnya ini tidak tepat karena otak kita selalu memperhatikan apa yang terjadi pada lingkungan kita. Hanya saja yang menjadi perhatian para siswa itu bukan yag kita anggap penting. Perhatian itu sangat selektif. Sayangnya apa yang disampaikan guru kadang tidak menarik perhatian otak siswa. Ada beberapa hal yang bisa menjadi pemikiran bagi para guru agar merancang kegiatan belajarnya berdasarkan tiga hal yang akan dibahas berikut ini:
a. Hal Baru
Kebaruan atau hal baru merupakan hal yang penting untuk menarik perhatian. Otak kita dirancang untuk memberikan perhatian kepada hal yang baru pada lingkungan. Ini masalah pertahanan diri untuk keselamatan. Nenek moyang kita yang masih berburu di alam bebas selalu mengamati lingkungan memperhatikan hal baru yang belum pernah terlihat sebelumnya, jejak kaki, patahan cabang, goresan kuku binatang dan lain sebagainya. Guru sejarah yang datang dengan pakaian Diponegoro untuk bercerita tentang sejarah perang Diponegoro 1625-1630 akan menarik perhatian siswa. Guru IPA membawa berbagai jenis hewan ke dalam kelas untuk menjelaskan tentang klasifikasi akan mendapat perhatian lebih dari pada hanya meminta siswa membaca buku paket.
b. Intensitas Informasi
Warna yang kontras, ukuran yang besar, suara yang merdu, akan menarik perhatian. Para pekerja yang bekerja di TV dan periklanan tahu tentang hal ini. Juga mereka yang bekerja di bidang pertujukan di panggung. Sehingga volume suara, perpaduan warna, ukuran media menjadi perhatian mereka. Jika ada dua rangsangan yang muncul bersamaan maka yang intensitasnya lebih yang akan mendapatkan perhatian lebih. Sekarang ini banyak bermunculan metode pembelajaran yang menggunakan multimedia yang mengatur intensitas informasi sehingga yang paling relevan yang paling ditonjolkan.
c. Gerakan
Gerakan adalah faktor ketiga yang menarik perhatian. Secara umum kita tertarik kepada hal-hal yang bergerak dan dinamis. Anak-anak kecil mudah sekali tertarik dengan benda-benda yang bergerak. Kadang mereka menendang, melemparkan kaleng atau boneka hanya ingin tahu bagaimana benda tersebut bergerak. Lampu neon iklan yang berkedip (seakan bergerak) akan lebih menarik perhatian dari pada lampu yang menyala statis. Alat peraga yang dapat dipindah, dibuka, ditutup, digerakkan maju, mundur, diputar akan jauh lebih menarik perhatian dari pada gambar yang statis.
Makna dan Perhatian
Pada awal tulisan ini saya menuliskan tentang “Monas” jika seseorang yang pernah melihat Monas atau membaca tentang tugu Monas saya minta memejamkan mata dan kemudian saya berkata bayangkan “Monas,” mungkin dia bisa membayangkan tugu Monas. Sedangkan orang Rusia yang belum pernah sama sekali datang ke Jakarta atau melihat gambar tugu Monas, kata tersebut tidak berarti apa-apa. Juga coretan pada awal tulisan ini yang bisa berarti bilangan 13 atau huruf B, itu hanya bermakna bagi seseorang yang pernah belajar tentang hal itu. Juga ketika kita menunggu di ruang dokter dan mengambil majalah kedokteran dan membuka artikel penyakit dalam bahasa Perancis mungkin akan cepat kita letakkan lagi karena apa yang tertulis di sana tidak bermakna bagi kita. Jadi walaupun kita bisa membuat ketiga hal yang menarik perhatian tadi dalam proses pembelajaran tetapi kalau tidak berkaitan dengan apa yang sudah dikenali dahulu oleh otak siswa maka cenderung tidak akan diproses juga oleh otak siswa. Otak kita mencari pola yang sudah dikenal.
Apa yang Anda lihat? Tangan diberi gambar? Ular? Anjing? Semuanya tergantung dari pola apa yang pernah Anda dapatkan sebelumnya.
Emosi dan Perhatian
Robert Sylwester penulis Celebration of Neurons mengatakan “Emosi mengarahkan perhatian, dan perhatian mengarahkan pembelajaran.” Otak kita melalui indera yang kita miliki selalu melakukan pemindaian terhadap lingkungan di sekeliling kita. Untuk apa? Untuk bertahan hidup. Ketika kita berjumpa atau tiba tiba ada hewan melata yang panjang tanpa kaki melintas di depan kaki kita. Kemungkinan besar tindakan kita adalah diam terpaku atau lari. Mengapa demikian? Karena otak kita memerintahkan kita untuk selamat. Atau jika ada benda melayang dekat dengan kepala kita otomatis kita menunduk. Jantung kita kemudian berdebar lebih cepat, mungkin juga muncul keringat dingin tiba-tiba. Tindakan kita kadang irasional lebih kepada emosi dari pada berpikir secara logis. Itu juga yang terjadi pada siswa yang tiba-tiba saja terdiam ketika melihat seorang guru melintas karena ia tahu bahwa dia belum mengerjakan tugas, jadi berusaha untuk tidak terlihat atau terdengar oleh guru itu.
Dual hal di atas: Makna dan Emosi sangat berpengaruh terhadap pembelajaran. Dua hal yang bisa menyebabkan sebuah ingatan akan diproses ke tahap selanjutnya atau dibuang untuk tidak diproses ketahap selanjutnya. Tergantung bagaimana hal tersebut ada kaitan atau tidak dengan si pembelajar.
Implikasi hal ini kepada pembelajaran adalah guru harus merancang kegiatan belajar mengajar yang bermakna bagi siswa serta mempunyai tingkat emosi yang cukup agar menarik perhatian siswa sehingga bisa diproses pada tahap selanjutnya.
Ingatan Kerja
Pada bagian awal, pada proses ingatan memori semua berjalan tanpa kita sadari. Hampir semua proses dalam otak kita berlangsung tanpa kita sadari. Otak kita secara konstan memindai informasi yang ada di sekeliling kita, tujuannya adalah membuat kita selamat. Meskipun demikian ada satu
yang penting jika informasi tersebut tidak diproses secara sadar maka kita tidak akan mengerti dan paham terhadap informasi yang masuk, bahkan untuk mengingat rangkaian nomor telepon baru yang disampaikan oleh kenalan baru kita.
Meskipun memori kerja ini penting, kemampuan untuk mengingatnya pendek. Bahkan kita kadang langsung lupa lagi ketika selesai memutar nomor telepon baru rekan kita.
bersambung…


MAU nanya nih!
kalau flashub memory itu apa yaa…????
Coba cek ini: http://www.uic.edu/classes/comm/comm200am/teamprojects/MemoryTechnologies/Flashbulb_Memory.htm
izini copy gambarnya nah!
Silakan kopi gambarnya.
maksudnya flashbulb memory? Ingatan yang sangat jelas, bagai gambar foto, mengenai kondisi sekitar seseorang. Misal korban tsunami yang selamat, biasanya akan ingat situasi, kondisi, hampir seperti melihat film tentang hal yang menimpa dirinya.
btw, terima kasih sudah berkunjung.
Salah satu buku tentang ini Mengajar Agar Siswa ingat sudah diterjemahkan. Ada di Gramedia, bukunya Marilee Spenger.