Membangun Budaya Membaca
Membaca merupakan sebuah tradisi intelektual yang belum mengakar di Indonesia. Banyak sekali penyebabnya , dua diantaranya adalah kurangnya buku yang berkualitas dan menyenangkan di sekolah serta kurangnya kegiatan membaca atau tradisi membaca di sekolah. Mengapa di sekolah? Karena sekolah seharusnya yang menjadi pusat pengembangan budaya intelektual yang salah satu pondasinya adalah membaca. Karena itu selain sekolah harus mempunyai perpustakaan yang bagus dan memadai sekolah juga harus mempunyai program untuk membangun budaya membaca.
Pertanyaannya bagaimana memulainya? Tentu saja harus dimulai dari guru. Guru harus sadar bahwa ia adalah teladan bagi para siswanya. Perkataan guru akan lebih mengena jika guru juga melakukannya. Karena siswa akan melihat apakah yang dikatakan gurunya selaras dengan perkataannya.
Pelatihan Membangun Budaya Membaca
Seorang Peserta berbagi isi buku yang dibacanya.
Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 16-17 Februari 2011 di Kecamatan Merlung Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi ditengah perkebuan sawit, Tanoto Foundation mengadakan pelatihan Pelita Pustaka tahap 2 berupa pelatihan Membangun Budaya Membaca. Pesertanya adalah lima sekolah dasar negeri yang terletak di dalam perkebunan sawit Asian Agri.
Membuat Catatan Bacaan
Selama dua hari para guru dan kepala sekolah mengikuti pelatihan Membangun Budaya Membaca yang disampaikan oleh pelatih dari CREDO, Bp. S Agung Wibowo dan Ibu Dina Riyanti. Dalam pelatihan tersebut peserta diajak berdikusi mengenai apa itu membaca, hal-hal yang menyebabkan siswa senang membaca, hal-hal yang menyebabkan siswa tidak mau membaca, berlatih membaca lantang untuk siswa baik bagi siswa kelas rendah maupun siswa kelas tinggi, membuat program membaca mandiri, bagaimana membantu siswa untuk lebih dekat serta paham apa yang dibaca, serta berlatih membuat kegiatan yang menghubungkan antara buku-buku perpustakaan yang non-teks dengan pelajaran yang dipelajari di kelas.
Peserta berlatih Membaca Lantang
Pelatihan berlangsung seru walau tetap serius. Para guru bahkan menyimak bagaikan anak-anak ketika dibacakan buku cerita dan konsentrasi penuh ketika membaca mandiri. Para guru juga bersemangat ketika mengerjakan tugas layaknya siswa serta penuh eskpresi ketika berlatih membaca lantang untuk para peserta lain.
Jakarta, 28 Februari 2011



Pak Agung, kalau boleh, tulis kiat-kiat membangun budaya membaca di blog, dong!
maaf baru di balas, sedang ditulis bukunya. Oktober atau November nati buku panduannya jadi.
budaya baca harus menjadi budaya guru dan peserta didik agar bangsa ini maju.
salam
Omjay
http://wijayalabs.com