Pada tulisan saya yang lalu, saya menyampaikan salah satu ketakutan saya, yaitu “lupa.” Lupa pada sesuatu yang penting. Lupa terjadi karena koneksi antar neuron-neuron terputus. Jadi saya memutuskan untuk menjaga koneksi-koneksi tersebut. Salah satu caranya adalah membuat terjemahan dari buku-buku yang pernah saya baca. Salah satunya adalah: “Social Studies and the Elementary School Child.”
Ada bagian yang menarik dari buku ini yang saya anggap penting untuk dibagi dengan semua yang mempunyai perhatian terhadap perkembangan Ilmu Pengetahuan Sosial, khususnya di sekolah dasar.
Apa yang akan saya terjemahkan secara bebas ini mungkin akan terasa pas karena bulan April 2009 ini kita akan ada kegiatan demokrasi rutin lima tahunan.
Dalam buku ini, pada bagian “Essential of Exemplary Social Studies Programs,” dituliskan: Partisipasi warga negara dalam kehidupan publik adalah sangat penting bagi kesehatan sistem demokrasi. Program pelajaran IPS (terpaksa saya terjemahkan IPS) yang efektif adalah untuk mempersiapkan siswa yang nantinya akan dapat: mengidentifikasi, memahami masalah sosial, serta bekerja untuk memecahkan masalah yang dihadapi bangsa ini serta dunia yang semakin beragam dan saling berkaitan.
(Bagian yang saya suka dari buku ini karena IPS di sini digunakan untuk mempersiapkan siswa menghadapi dunia nyata. Bukan untuk bisa mengerjakan UAN, oh lupa IPS tidak diujikan di Indonesia, jadi nggak penting!)
Lalu apa saja yang perlu dipersiapkan untuk siswa?
Pengetahuan
Pengetahuan tentang:
- Dunia secara umum,
- Lingkungan sekitar siswa,
- Individu-individu di sekitar lingkungan siswa dan dunia,
- Lembaga dan kelembagaan,
- Masa lalu (sejarah)
- Masa kini
- Masa depan
Kurikulum pembelajaran IPS yang baik menghubungkan informasi yang dipresentasikan dalam kelas dikaitkan dengan pengalaman nyata siswa dalam kehidupan yang nyata melalui observasi, analisis, serta partisipasi sosial dan kewarganegaraan.
Program pembelajaran yang baik mengajarkan: keterampilan,konsep dan generalisasi yang membantu siswa untuk memahami luasnya masalah yang dihadapi manusia serta cara-cara mengelola konflik yang sesuai dengan prosedur-prosedur yang demokratis.
(Menarik! Karena di sini ditegaskan yang diajarkan adalah keterampilan, konsep, serta generalisasi. Bukan sekedar hafalan tanggal, nama, peristiwa atau lembaga)
Nah sekarang terserah sekolah (guru). Apakah hanya akan mengajarkan hafalan untuk ujian atau mempersiapkan siswa untuk kehidupan nyata?
Ini bagian pertama, nanti bagian selanjutnya menyusul.
Agung W
5 Maret 2009