Agung’s Weblog

Catatan, pikiran dan ide-ide tentang guru, mengajar dan belajar

Arsip untuk Maret, 2009

“Essential of Exemplary Social Studies Programs (3)”

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Maret 10, 2009

Lanjutan….
Bagian terakhir.

Keterampilan Berpikir

Ada hal penting yang disampaikan dalam buku ini yang kurang (tidak ada) dalam program pembelajaran IPS di Indonesia: menghubungkan antara pengetahuan dengan keyakinan dan tindakan. (Padahal dalam Islam –agama yang dianut sebagian besar penduduk Indonesia– sudah diulas lebih dari seribu limaratus tahun yang lalu: iman itu dalam hati, diucapkankan dengan kata dan diamalkan dalam perbuatan, tapi itu akan dibahas dalam bab lain…)

Caranya? Latihan yang sistematis dalam proses pembelajaran di sekolah (bisa saja dalam institusi pendidikan yang lain) akan mengasah keterampilan berpikir. Hal dasar yang menjadi tujuan pembelajaran IPS adalah rangkaian keterampilan yang mendukung sikap-sikap yang rasional dalam situasi social.

Keterampilan itu adalah keterampilan berupa keterampilan dasar yaitu membaca dan matematika (aslinya: computation) ditambah beberapa keterampilan lain yang dikelompokkan dalam empat kategori keterampilan utama:

1. Keterampilan pengumpulan data Belajar untuk:
- mendapatkan informasi melalui observasi
- mencari informasi dari berbagai sumber
- membuat kompilasi, mengatur, dan mengevaluasi informasi
- memahami inti informasi dan membuat interpretasi dari informasi tersebut
- mengkomunikasikan informasi itu: lisan dan tulisan

2. Keterampilan intelektual. Belajar untuk:
- membandingkan: benda, ide, kejadian/peristiwa, situasi berdasarkan persamaan dan perbedaan
- melakukan klasifikasi, membuat kategori
- bertanya dengan pertanyaan yang sesuai, bertanya untuk mencari tahu…
- membuat kesimpulan, berinferensi
- membuat prediksi yang intelek dari sebuah generalisasi

3. Keterampilan menentukan keputusan. Belajar untuk:
- mempertimbangkan solusi alternatif
- mempertimbangkan konsekuensi dari setiap solusi
- membuat keputusan dan memberikan alasan yang sesuai dengan prinsip-prinsip demokratis
- mengambil tindakan berdasarkan pada keputusan tersebut

4. Keterampilan interpersonal. Belajar untuk:
- melihat dari sudut pandang orang lain
- memahami keyakinan, perasaan, kemampuan, dan kekurangan diri sendiri dan bagaimana hal-hal tersebut mempengaruhi hubungannya dengan orang lain
- membuat generalisasi terhadap sebuah kelompok tanpa membuat stereotip dan membuat klasifikasi individu secara arbitrer (ini susah sekali….)
- mengenali nilai-nilai pada individu/orang lain berbeda dari nilai dirinya sendiri dan nilai kelompoknya juga berbeda dari individunya (susaaahhh)
- bekerja secara efektif dalam kelompok
- memberikan juga menerima kritik secara konstruktif
- mampu bertanggung jawab dan menghormati hak dan milik orang lain

Keterampilan berpartisipasi.
Sebagai warga (negara) yang aktif, seseorang akan menggunakan pengetahuan keyakinan dan keterampilan yang dipelajari di sekolah, ruang kelas, dan keluarga sebagai landasan berpartisipasi.

Menghubungkan ruang kelas dengan komunitas akan memberikan banyak peluang bagi siswa untuk belajar dasar-dasar keterampilan berpartisipasi, mulai dari observasi sampai advokasi. Untuk mengajarkan partisipasi program pembelajaran IPS perlu untuk menekankan pada keterampilan:
- bekerja secara efektif dalam kelompok: oragnisasi, perencanaan, membuat keputusan, mengambil tindakan
- membentuk koalisi berdasarkan kepentingan dengan kelompok lain
- persiasi, berkompromi, tawar-menawar
- sabar, dan teguh untuk mencapai tujuan
- mengembangkan pengalaman dalam situasi lintas kultural

Ini terjemahan dan adaptasi dari “Essential of Exemplary Social Studies Programs” dalam buku “Social Studies and the Elementary School Child. Hal. 32-33” Pembaca boleh setuju atau tidak dengan buku ini (bagian dari buku ini) tetapi bagi saya ini tetap menarik untuk dipraktekkan di sekolah-sekolah di Indonesia karena akan memperkaya kelas-kelas IPS kita.

Agung Wibowo
10 Maret 2009

Ditulis dalam 1 | Bertanda: , , | Leave a Comment »

“Essential of Exemplary Social Studies Programs” (bag.2)

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Maret 6, 2009

Lanjutan….

Keyakinan kepada DEMOKRASI

Kalau di “Social Studies and the Elementary School Child” rujukkannya adalah “The Declaration of Independence and the United States of Constitution dengan Bill of Rightsnya maka seharusnya kita juga merujuk kepada Pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya ada Pancasila dan UUD 1945 plus perubahannya.

(Mungkin saya akan banyak diketawai…wong para anggota Legislatif yang Terhormat saja nggak merujuk ke situ dalam bernegara kok saya ngomong tentang rujukan Negara…)

Program pembelajaran IPS yang baik tidak mengindoktrinasi siswa, menjejalkan ideologi Negara kepada siswa (yang terbukti gagal selama 32 tahun) tetapi mengajak para siswa berpikir mengenai konsep-konsep kenegaraan kita, berdiskusi, bagaimana hal-hal mendasar tersebut bisa mengawal kehidupan bermasyarakat, bernegara dan kelembagaan yang demokratis.

Program pembelajaran IPS tercermin dalam pelaksaan kegiatan belajar mengajar, demokrasi dipraktekkan dalam kehidupan sekolah dengan berlandaskan kepada proses-proses persamaan hak, partisipasi publik yang berakar kepada konsep keadilan, persamaan, kemerdekaan, keragaman, dan juga penghormatan terhadap individu.

Sebagai catatan untuk yang mencari naskah UUD 1945 dan perbahannya maka dipersilahkan untuk klik: UUD 1945.

Agung W

6 Maret 2009

Ditulis dalam 1 | Leave a Comment »

“Essential of Exemplary Social Studies Programs”

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Maret 5, 2009

Pada tulisan saya yang lalu, saya menyampaikan salah satu ketakutan saya, yaitu “lupa.” Lupa pada sesuatu yang penting. Lupa terjadi karena koneksi antar neuron-neuron terputus. Jadi saya memutuskan untuk menjaga koneksi-koneksi tersebut. Salah satu caranya adalah membuat terjemahan dari buku-buku yang pernah saya baca. Salah satunya adalah: “Social Studies and the Elementary School Child.”

Ada bagian yang menarik dari buku ini yang saya anggap penting untuk dibagi dengan semua yang mempunyai perhatian terhadap perkembangan Ilmu Pengetahuan Sosial, khususnya di sekolah dasar.

Apa yang akan saya terjemahkan secara bebas ini mungkin akan terasa pas karena bulan April 2009 ini kita akan ada kegiatan demokrasi rutin lima tahunan.

Dalam buku ini, pada bagian “Essential of Exemplary Social Studies Programs,” dituliskan: Partisipasi warga negara dalam kehidupan publik adalah sangat penting bagi kesehatan sistem demokrasi. Program pelajaran IPS (terpaksa saya terjemahkan IPS) yang efektif adalah untuk mempersiapkan siswa yang nantinya akan dapat: mengidentifikasi, memahami masalah sosial, serta bekerja untuk memecahkan masalah yang dihadapi bangsa ini serta dunia yang semakin beragam dan saling berkaitan.

(Bagian yang saya suka dari buku ini karena IPS di sini digunakan untuk mempersiapkan siswa menghadapi dunia nyata. Bukan untuk bisa mengerjakan UAN, oh lupa IPS tidak diujikan di Indonesia, jadi nggak penting!)

Lalu apa saja yang perlu dipersiapkan untuk siswa?

Pengetahuan
Pengetahuan tentang:
- Dunia secara umum,
- Lingkungan sekitar siswa,
- Individu-individu di sekitar lingkungan siswa dan dunia,
- Lembaga dan kelembagaan,
- Masa lalu (sejarah)
- Masa kini
- Masa depan
Kurikulum pembelajaran IPS yang baik menghubungkan informasi yang dipresentasikan dalam kelas dikaitkan dengan pengalaman nyata siswa dalam kehidupan yang nyata melalui observasi, analisis, serta partisipasi sosial dan kewarganegaraan.

Program pembelajaran yang baik mengajarkan: keterampilan,konsep dan generalisasi yang membantu siswa untuk memahami luasnya masalah yang dihadapi manusia serta cara-cara mengelola konflik yang sesuai dengan prosedur-prosedur yang demokratis.

(Menarik! Karena di sini ditegaskan yang diajarkan adalah keterampilan, konsep, serta generalisasi. Bukan sekedar hafalan tanggal, nama, peristiwa atau lembaga)

Nah sekarang terserah sekolah (guru). Apakah hanya akan mengajarkan hafalan untuk ujian atau mempersiapkan siswa untuk kehidupan nyata?

Ini bagian pertama, nanti bagian selanjutnya menyusul.

Agung W
5 Maret 2009

Ditulis dalam 1 | Bertanda: , , | 2 Komentar »

Hilangnya hubungan antar Neuron

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Maret 5, 2009

Satu hal yang saya takutkan pada otak saya adalah hilangnya hubungan antara neuron-neuron yang membentuk pemahaman yang telah saya bentuk selama hidup saya.

Memori atau ingatan hidup terbentuk dari hubungan-hubungan yang terjalin pada jutaan neuron yang membangun jaringan pemahaman tentang hidup ini.

Tetapi kadang sikap saya terhadap sesuatu hal membuat hubungan-hubungan antar neuron itu terputus atau sulit untuk dilacak kembali, akibatnya saya lupa atau kehilangan koneksi terhadap hal tersebut. Banyak hal yang saya sadari telah putus koneksinya sehingga saya hanya mendapatkan gambaran besar saja mengenai suatu peristiwa, kejadian, pelajaran, dan lain sebagainya.

Saya harus memperbaiki sikap terhadap hidup ini agar koneksi-koneksi yang penting antar neuron-neuron dalam otak saya tetap tersambung agar hidup ini lebih bermakna.

Agung W
5 Maret 2009

Ditulis dalam 1 | Leave a Comment »