Bertanya untuk Membangun Pemahaman (1)
Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Agustus 15, 2008
Selama karir saya menjadi pelatih guru, hampir 2000 guru yang saya temui. Ada satu kesamaan dari mereka. Kesamaan yang mungkin menyebabkan pendidikan kita tertinggal jauh dari negara-negara lain.
Apakah itu? Kesamaan itu adalah: kurang terampilnya para guru itu dalam hal BERTANYA. Pertanyaan dan bertanya adalah pokok dari proses pembelajaran. Tanpa ada pertanyaan, maka tidak ada proses belajar dan kemajuan dunia ini akan terhenti. Tidak akan ada penemuan-penemuan baru yang membuat hidup manusia semakin mudah. Pertanyaan adalah inti dari belajar. Kalau kita perhatikan, sejak mulai bisa bicara, anak-anak kita yang berusia 2,5 – 3 tahun mulai belajar dengan bertanya apa saja yang terlintas dan terlihat oleh mereka. Ini apa? Apa itu, Mengapa itu? Bagaimana terjadinya? Siapa dia? Mengapa ibu berdandan? Apa Bapak mau pergi? Pergi kemana? Serta ribuan pertanyaan lain. Pertanyaan-pertanyaan ini dilontarkan anak-anak belia itu adalah proses mencari dan menghimpun informasi. Mereka ingin tahu apa yang terjadi diluar dirinya. Pertanyaan adalah sesuatu yang alami dalam diri manusia sebagai makhluk pembelajar.
Ketika anak-anak tersebut masuk ke sekolah sesuatu yang alami tersebut seakan-akan dimatikan. Yang dipesankan kepada mereka, ”Kalau di kelas diam ya, dengarkan apa kata ibu guru.” Pesan apa yang tersampai? Pesan bahwa mereka tidak penting, apa yang mereka ingin ketahui tidak penting. Hal yang penting adalah diam, patuh dan mendengarkan guru, informasi akan diberikan oleh guru. Dalam hal ini orang tua, guru, dan sekolah lupa bahwa tugas mereka adalah memberi fasilitas kepada anak-anak untuk belajar. Alih-alih memberikan fasilitas untuk belajar, yang terjadi adalah penanaman ide bahwa pengetahuan itu milik orang dewasa dan anak-anak hanya boleh menerima.
Sayang, inilah yang terjadi di ruang-ruang kelas kita. Mulai dari TK sampai SMA yang terjadi adalah proses penuangan informasi, seperti teko mengisi gelas. Tidak peduli gelasnya sudah penuh atau gelasnya miring, tanpa pandang bulu si teko terus mengisi gelas tersebut. Guru-guru sudah merasa pekerjaannya selesai kalau sudah memindahkan informasi dari buku teks ke dalam kepala siswa-siswanya. Pertanyaaan yang penting bagi mereka adalah pertanyaan yang ada jawabannya, ada kepastian benar dan salah, ada kuncinya, pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang di UN-kan.
Para guru itu tidak sendirian, buku teks pelajaran yang dibaca para siswapun jarang ada yang memuat pertanyaan yang menarik minat. Bahkan jarang yang memulai pokok bahasannya dengan pertanyaan. Di bawah ini saya kutipkan berapa contoh pembukaan pada beberapa buku pelajaran:
- Bilangan Cacah. Menghitung adalah kegiatan matematika yang telah dilakukan manusia sejak dulu. Pada saat itu manusia melakukan perhitungan pada banyaknya ternak yang mereka miliki atau barang-barang yang mereka gunakan. (Matematika untuk SMP Kelas VII Semester 1, oleh Wono Setya Budhi Ph.D. hal 2.)
- Sumpah Pemuda. Inti dari Sumpa Pemuda adalah satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. (PKN, Kelas 3 Sekolah Dasar, oleh Drs. Sunarso, M.Si. hal.1)
- Perhatikan Agis dan teman-teman. Mereka sedang belajar Al Qur’an. Mereka memperhatikan guru dengan seksama. (Pendidikan Agama Islam Kelas 3 Sekolah Dasar, oleh Achmad Farichi, S.Pd.I dkk, hal.1)
Padahal, bisa saja pembukaan sebuah buku dimulai dengan sebuah pertanyaan yang menggelitik. Tidak harus terjawab dalam pokok bahasan tersebut, karena tujuannya adalah merangsang otak siswa untuk bekerja. Dari ketiga pokok bahasan di atas, bisa saja penulisnya memulai dengan pertanyaan:
- Bilangan cacah, apa itu? Mengapa ada bilangan 0 (nol), apa gunanya? Atau pertanyaan yang lebih mendasar: Untuk apa kita bisa menghitung? Bagaimana cara menghitung?
- Sumpah Pemuda, apakah itu? Mengapa Sumpah Pemuda diperingati tiap tahun?
- Mengapa kita harus belajar membaca Al Qur’an? Apa pentingnya membaca Al Qur’an bagi kita?
Dalam tulisan ini akan dibahas beberapa hal mengenai pentingnya pertanyaan dalam proses pembelajaran, apa hubungannya pertanyaan dengan pemahaman, bagaimana bertanya yang membangun pemahaman, apa saja yang harus dilakukan guru agar siswa mau bertanya, jenis-jenis pertanyaan yang bisa diajukan guru.
(tunggu lanjutannya…)