Agung’s Weblog

Catatan, pikiran dan ide-ide tentang guru, mengajar dan belajar

Arsip untuk Agustus, 2008

Bertanya untuk Membangun Pemahaman (bag 2)

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Agustus 19, 2008

I.  Pentingnya Pertanyaan dalam Proses Pembelajaran

Tujuan dari pembelajaran adalah agar siswa bisa mendapatkan suatu pemahaman dari konsep-konsep yang dipelajari. Oleh karena itu proses belajar mengajar yang dilakukan  di dalam kelas hendaknya selalu bertitik tolak pada apa yang diketahui oleh siswa sebelumnya dan dihubungkan dengan konsep baru yang diajarkan, sehingga siswa bisa membangun pemahaman dari padanya.

            Untuk bisa membangun pemahaman tersebut maka dibutuhkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja sesuai, namun juga strategis, fokus dan efektif. Karena pertanyaan adalah hal yang penting bagi proses pembelajaran maka guru perlu mempelajari, mempersiapkan, serta merencanakan pertanyaan dengan baik. Jika guru bisa memberikan pertanyaan secara efektif maka siswa akan memperoleh fasilitas pembelajaran yang penting. Pertanyaan-pertanyaan yang baik akan membantu siswa menyusun serta mengorganisasikan pemikiran mereka. Dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan guru memberikan model yang baik bagi siswa untuk mengolah data yang yang mereka terima. Dalam hal ini siswa juga belajar keterampilan bagaimana mengolah informasi, mengetahui apakah informasi yang mereka punyai cukup atau kurang untuk mengambil kesimpulan. Keterampilan ini sangatlah penting bagi siswa.

            Ketika siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan guru maka yang terjadi adalah proses aktif pencarian pemahaman. Pertanyaan berfungsi seperti perancah ketika seorang ahli bangunan membangun gedung. Ketika cor semen belum kering sempurna maka perancah tersebut belum dilepas.

 

II. Petunjuk Umum bagi Guru untuk Bertanya

Bertanya merupakan sebuah keterampilan karena itu perlu dipelajari dan dilatih. Pertanyaan yang tidak terarah dan tidak fokus akan membuat yang ditanya bingung dan

kehilangan arah.

            Hal pertama yang perlu dilakukan guru adalah memahami konsep dari materi yang hendak disampaikannya dalam sebuah pelajaran. Dengan memahami konsep dari materi ini ini guru mengerti inti dan tujuan materi ini. Tidak perlu mengerti semua informasi detil dari sebuah pelajaran karena itu hal yang mustahil. Yang penting bagi guru adalah paham mengapa materi tersebut penting bagi siswa, pemahaman apa yang akan dibawa siswa setelah ia selesai mempelajari topik tersebut.

            Guru harus menyadari bahwa keberadaannya adalah sebagai fasilitator berpikir. Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan bukan untuk kepuasan pribadi karena ingin tahu. Pertanyaan-pertanyaan itu bukan pula pertanyaan inkuisitif layaknya seorang penyidik atau jaksa yang sedang memeriksa terdakwa. Siswa disini harus didudukkan sebagai seseorang yang sedang magang dalam hal berpikir. Guru memposisikan dirinya seperti seorang pelatih, seperti pelatih olahraga yang memberikan dorongan, petunjuk agar si atlit semakin ahli dan terampil dalam bidangnya..

            Berikut ini adalah beberapa pedoman bagi guru untuk bertanya.

Prinsip-prinsip umum

  1.  
    1. Berbuat adil. Sebarkan pertanyaan kepada semua siswa, yang di barisan depan, di barisan tengah, kolom samping kanan dan kiri, jangan lupa yang dibelakang. Pertanyaan juga untuk mereka yang tidak mengangkat tangan. Semua berhak untuk belajar.
    2. Berikan pertanyaan-pertanyaan yang mengundang siswa untuk berpikir. Hal ini penting, karena guru cenderung bertanya sesuatu yang faktual saja. Tanyakan sesuatu yang hipotetis yang berkaitan dengan topik.
    3. Lihat sebaran siswa, variasikan tingkat kesulitan pertanyaan. Jangan hanya bertanya yang sulit-sulit saja, berikan juga pertanyaan yang mudah agar siswa semua siswa bisa berpartisipasi.
    4. Doronglah siswa untuk menjawab lengkap dengan alasannya. Jika siswa menjawab hanya sepotong, tanyakan kembali dengan pertanyaan lain agar lebih lengkap jawabannya. Hindari pertanyaan ”ya-tidak.” Jika terlanjur, bertanya yang jawabannya ”ya-tidak” lanjutkan dengan ”Jelaskan.”
    5. Doronglah siswa untuk berpikir kritis. Berikan pertanyaan lanjutan, ”Dalam situasi apa itu berlaku?” ”Bagaimana?” ”Mengapa?” ”Apa perbedaannya dengan…?” ”Apa persamaannya dengan…”

1.      Hindari: Apakah ada yang tahu? Siapa yang bisa?

2.      Berikan waktu untuk berpikir. Tunggu sampai ada empat atau lima siswa yang terlihat mau menjawab.

3.      Jadilah model untuk berbicara baik dan benar serta menunjukkan pemikiran yang koheren.

3.1.  Bertanyalah dengan kalimat yang jelas. Gunakan kosa kata yang sesuai dengan tingkatan kelas.

3.2.  Bertanyalah dengan singkat, spesifik dan proaktif.

4.      Dorong siswa untuk memberikan komentar yang logis kepada jawaban rekannya.

4.1.  Tanyakan, ”Apa pendapatmu terhadap jawaban itu.” ”Apa komentar mu tentang hal tersebut?

4.2.  Berikan pertanyaan lanjutan kepada jawaban yang menuju kepada hal yang diminta, untuk membangun kontribusi.

4.3.  Bersikaplah tegas kepada siswa yang agresif. Tidak ada yang boleh mendominasi baik guru maupun siswa.

4.4.  Jangan cepat berlalu dari siswa yang kesulitan untuk menjawab. Beri dukungan dengan pertanyaan yang sesuai, ”Perlu bantuan dimana?”

5.      Hormati siswa. Jangan memotong siswa yang sedang berusaha menjawab. Hentikan setiap usaha untuk mengejek atau merendahkan setiap usaha siswa yang berkeinginan menjawab. (Kadang ada siswa yang berkomentar lucu atau sinis terhadap rekan yang berusaha menjawab.)

6.      Gunakan teknik: pertanyaan-jeda-nama. Contoh: ”Bagaimana proses terjadinya hujan?” –jeda, 3 detik-,  ”Coba, Anto.”

7.      Jika kelas kecil, maka usahan suara terdengar lantang. Jangan mengulang jawaban atau pertanyaan. (Kecuali kelasnya besar dan padat boleh mengulang pertanyaan dan jawaban.)

8.      Jika ada siswa bertanya, disarankan untuk mengembalikan pertanyaan tersebut ke kelompok besar, ”Apa jawaban atas pertanyaan ini, menurut kalian?”

9.      Personifikasikan pertanyaan. ”Jika kamu menjadi … apa yang akan kamu lakukan?”

10.  Tunjukkan posisi Anda sebagai rekan dengan mengatakan, ”Bagaimana kita memecahkan masalah ini…?”

Ditulis dalam 1 | 2 Komentar »

Bertanya untuk Membangun Pemahaman (1)

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Agustus 15, 2008

Selama karir saya menjadi pelatih guru, hampir 2000 guru yang saya temui. Ada satu kesamaan dari mereka. Kesamaan yang mungkin menyebabkan pendidikan kita tertinggal jauh dari negara-negara lain.

Apakah itu? Kesamaan itu adalah: kurang terampilnya para guru itu dalam hal BERTANYA. Pertanyaan dan bertanya adalah pokok dari proses pembelajaran. Tanpa ada pertanyaan, maka tidak ada proses belajar dan kemajuan dunia ini akan terhenti. Tidak akan ada penemuan-penemuan baru yang membuat hidup manusia semakin mudah. Pertanyaan adalah inti dari belajar. Kalau kita perhatikan, sejak mulai bisa bicara, anak-anak kita yang berusia 2,5 – 3 tahun mulai belajar dengan bertanya apa saja yang terlintas dan terlihat oleh mereka. Ini apa? Apa itu, Mengapa itu? Bagaimana terjadinya? Siapa dia? Mengapa ibu berdandan? Apa Bapak mau pergi? Pergi kemana? Serta ribuan pertanyaan lain. Pertanyaan-pertanyaan ini dilontarkan anak-anak belia itu adalah proses mencari dan menghimpun informasi. Mereka ingin tahu apa yang terjadi diluar dirinya. Pertanyaan adalah sesuatu yang alami dalam diri manusia sebagai makhluk pembelajar.

Ketika anak-anak tersebut masuk ke sekolah sesuatu yang alami tersebut seakan-akan dimatikan. Yang dipesankan kepada mereka, ”Kalau di kelas diam ya, dengarkan apa kata ibu guru.” Pesan apa yang tersampai? Pesan bahwa mereka tidak penting, apa yang mereka ingin ketahui tidak penting. Hal yang penting adalah diam, patuh dan mendengarkan guru, informasi akan diberikan oleh guru. Dalam hal ini orang tua, guru, dan sekolah lupa bahwa tugas mereka adalah memberi fasilitas kepada anak-anak untuk belajar. Alih-alih memberikan fasilitas untuk belajar, yang terjadi adalah penanaman ide bahwa pengetahuan itu milik orang dewasa dan anak-anak hanya boleh menerima.

Sayang, inilah yang terjadi di ruang-ruang kelas kita. Mulai dari TK sampai SMA yang terjadi adalah proses penuangan informasi, seperti teko mengisi gelas. Tidak peduli gelasnya sudah penuh atau gelasnya miring, tanpa pandang bulu si teko terus mengisi gelas tersebut. Guru-guru sudah merasa pekerjaannya selesai kalau sudah memindahkan informasi dari buku teks ke dalam kepala siswa-siswanya. Pertanyaaan yang penting bagi mereka adalah pertanyaan yang ada jawabannya, ada kepastian benar dan salah, ada kuncinya, pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang di UN-kan.

Para guru itu tidak sendirian, buku teks pelajaran yang dibaca para siswapun jarang ada yang memuat pertanyaan yang menarik minat. Bahkan jarang yang memulai pokok bahasannya dengan pertanyaan. Di bawah ini saya kutipkan berapa contoh pembukaan pada beberapa buku pelajaran:

  1. Bilangan Cacah. Menghitung adalah kegiatan matematika yang telah dilakukan manusia sejak dulu. Pada saat itu manusia melakukan perhitungan pada banyaknya ternak yang mereka miliki atau barang-barang yang mereka gunakan. (Matematika untuk SMP Kelas VII Semester 1, oleh Wono Setya Budhi Ph.D. hal 2.)
  2. Sumpah Pemuda. Inti dari Sumpa Pemuda adalah satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. (PKN, Kelas 3 Sekolah Dasar, oleh Drs. Sunarso, M.Si. hal.1)
  3. Perhatikan Agis dan teman-teman. Mereka sedang belajar Al Qur’an. Mereka memperhatikan guru dengan seksama. (Pendidikan Agama Islam Kelas 3 Sekolah Dasar, oleh Achmad Farichi, S.Pd.I dkk, hal.1)

Padahal, bisa saja pembukaan sebuah buku dimulai dengan sebuah pertanyaan yang menggelitik. Tidak harus terjawab dalam pokok bahasan tersebut, karena tujuannya adalah merangsang otak siswa untuk bekerja. Dari ketiga pokok bahasan di atas, bisa saja penulisnya memulai dengan pertanyaan:

  1. Bilangan cacah, apa itu? Mengapa ada bilangan 0 (nol), apa gunanya? Atau pertanyaan yang lebih mendasar: Untuk apa kita bisa menghitung? Bagaimana cara menghitung?
  2. Sumpah Pemuda, apakah itu? Mengapa Sumpah Pemuda diperingati tiap tahun?
  3. Mengapa kita harus belajar membaca Al Qur’an? Apa pentingnya membaca Al Qur’an bagi kita?

Dalam tulisan ini akan dibahas beberapa hal mengenai pentingnya pertanyaan dalam proses pembelajaran, apa hubungannya pertanyaan dengan pemahaman, bagaimana bertanya yang membangun pemahaman, apa saja yang harus dilakukan guru agar siswa mau bertanya, jenis-jenis pertanyaan yang bisa diajukan guru.

(tunggu lanjutannya…)

 

Ditulis dalam 1 | Bertanda: | Leave a Comment »