Jika saja saya tidak menjadi anggota milis SD-Islam maka saya mungkin tidak akan tahu dan aktif di Foundation for Excellence in Education. Jika saya tidak terus aktif di milis SD-Islam maka saya mungkin tidak kenal Klub Guru. Jika saja saya tidak melibatkan diri dengan Klub Guru maka saya tidak akan bertemu dengan Mochtar Buchori. Apa yang dilakukan seseorang pada masa lalu memang sangat berpengaruh kepada apa yang akan terjadi di masa depan, “Butterfly Effect”. Namun saya tidak akan berbicara mengenai teori ini.
Selasa, 6 Mei 2008 saya bersama Pak Nanang alias Pak Ahmad Rizali sekitar jam 15.15 meluncur ke Bintaro sektor 9 dari kantor CBE di Jati Padang. Perjalanan ke Puri Bintaro 8 no. 29 sekitar 1 jam. Di rumah yang kecil, bersih, dan bercat warna krem saya dan Pak Nanang bertemu dengan Mochtar Buchori. Niat kami adalah mengundangnya menjadi pembicara pada pembukaan Klub Guru JADEBOTABEK.
Mochtar Buchori, sang begawan pendidikan Indonesia yang biasanya hanya saya lihat dari jauh ketika menjadi pembicara seminar sekarang ada di hadapan saya. Tubuhnya yang renta, jalannya yang tertatih tidak bisa menghalangi semangat yang bergelora di dalam dadanya. Suaranya jernih dan jelas ketika menyampaikan pandangannya tentang pendidikan dan guru. Saya seperti menemukan mata air ilmu yang menggelegak jernih dan segar.
Beliau menyampaikan tiga hal penting yang seharusnya disadari oleh seorang guru. Seorang guru menurut beliau adalah mengajarkan kepada siswa bagaimana untuk hidup, kemudian mengajarkan untuk hidup bermakna dan yang paling mendasar adalah mengajarkan untuk memuliakan kehidupan.
Ketiga hal tersebut banyak dilupakan oleh guru pada saat sekarang ini. Yang terjadi banyak guru yang hanya terpaku oleh hal-hal teknis, mengejar target, mengajarkan apa yang ada dalam buku teks. Tidak terpikir oleh mereka bahwa banyak dari informasi-informasi yang mereka jejalkan kepada siswa tidak bisa digunakan siswa itu untuk hidup. Pelajaran menghitung, aljabar, bahasa, ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam diajarkan hanya sekedar untuk lulus ujian, tetapi siswa tidak tahu bagaimana caranya menggunakan hal-hal itu untuk hidupnya selepas sekolah.
Kalau pelajaran untuk hidup saja terabaikan, bagaimana bisa hidup bermakna? Beliau mengeritik lomba-lomba, olimpiade-olimpiade ilmu pengetahuan alam, matematika, dan yang lain yang membuat siswa berkompetisi menjadi pintar tetapi tidak bermakna bagi bangsanya. Guru-guru mereka yang mengajarkan untuk menjadi pemenang, menjerumuskan mereka menjadi robot-robot, alat-alat perusahaan multinasional dan negara kapitalis. Lihat saja betapa banyak siswa-siswa pintar kita, pemenang olimpiade fisika, matematika dan lainnya telah diijon sejak SMP oleh negara lain, Singapura misalnya. Hal ini menjadikan mereka lebih mementingkan dirinya sendiri yang pada akhirnya untuk keuntungan orang lain, negara lain dan perusahaan multi nasional. Mereka melupakan kepentingan bangsanya. Apa itu bermakna? Jika yang pintar-pintar saja tidak bisa hidup bermakna, apalagi bagi yang kurang dalam segi kemampuan berpikir? Siswa yang lulus dengan menghalalkan segala cara, mendapatkan pelajaran untuk hidup tidak bermakna dari para gurunya.
Memuliakan kehidupan, sebuah hal yang paling dasar yang tidak diajarkan guru saat ini. Bahkan guru mengajarkan untuk tidak menghargai dirinya sendiri dengan merusak tubuh melalui merokok. Pelajaran tentang ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial bahwa pola hidup manusia bisa berpengaruh terhadap keseimbangan alam tidak berbekas pada siswa. Siswa-siswa membuang sampah sembarangan, memakai plastik berlebihan, boros penggunaan air, boros listrik, boros segalanya. Mereka tidak memuliakan kehidupan, karena memang tidak diajarkan oleh guru mereka. Tawuran, penggunaan HP, internet, serta alat komunikasi lainnya untuk hal-hal yang merendahkan martabat manusia dilakukan oleh para siswa. Mengapa? Karena gurunya tidak mengajarkan mereka untuk memuliakan kehidupan.
Mochtar Buchori, bertemu dengan beliau, mengobrol tentang berbagai hal selama kurang lebih 45 menit, bagaikan membaca lima buku tebal yang mengajarkan saya untuk menjadi guru yang yang lebih baik lagi. Itu semua karena saya menjadi anggota milis di SD-Islam, aktif di FEE dan menggiatkan KLUB GURU.
S Agung Wibowo
PS: Pertemuan dengan Mochtar Buchori memang inspiratif. Apa yang tertulis di atas idenya dari beliau, sebagian perkataan Pak Nanang, saya hanya merangkaikan dan mengisi dengan informasi yang ada dalam kepala saya.