Agung’s Weblog

Catatan, pikiran dan ide-ide tentang guru, mengajar dan belajar

Arsip untuk Mei 5th, 2008

“Walk the Talk bukan Walk the Dog”

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Mei 5, 2008

            “Walk the Talk” adalah sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris yang menggambarkan seseorang yang perkataannya sesuai dengan perbuatannya. Mungkin inilah yang hilang dari kelas-kelas di sekolah-sekolah kita. Para guru tidak lagi melakukan apa yang dikatakannya, sehingga para siswa tidak lagi bisa melihat teladan dari orang yang dikatakan mendidiknya. Kegiatan belajar mengajar seringkali tidak berjalan dengan baik. Guru lebih banyak mengatur siswanya dari pada memfasilitasi siswa untuk belajar. Sehingga guru banyak kehilangan kendali atas kelasnya dan mengatakan bahwa siswa tidak bisa diatur.

 

Itulah yang tersirat ketika penulis memberikan pelatihan tentang Pengelolaan Kelas pada program Adopt the Teacher yang dilaksanakan oleh Sampoerna Foundation, pada hari Sabtu, 3 Mei 2008. Secara teori dan konsep peserta pelatihan yang notabene para guru senior dengan mudah memberikan respon secara kognitif ketika diminta mendefinisikan apa itu pengelolaan atau manajemen kelas. Tidak ada masalah bagi mereka untuk menyebutkan faktor-faktor psikologis dan faktor fisik yang mempengaruhi proses kegiatan belajar mengajar. Kalau diberi tes tertulis mungkin nilainya rata-rata 80.

 

Jargon Pendidikan

Tidak bisa dipungkiri para guru kita terjebak dengan jargon-jargon pendidikan tanpa tahu konkrit pelaksanaanya di kelas. Ketika berdiskusi mengenai guru sebagai fasilitator maka kebanyakan peserta hanya memberikan definisi ataupun penjelasan yang teoritis tanpa bisa memberikan contoh yang konkrit apa yang dilakukan guru sebagai fasilitator di dalam kelas. Dengan fasih para guru bisa menjelaskan apa itu student centered dan apa itu teacher centered namun kesulitan untuk memberikan contoh aplikasinya di dalam kelas.

            Para guru tahu bahwa mereka itu adalah teladan untuk para siswa namun pengetahuan tersebut tidak tercermin dalam tindakan mereka sebagai guru. Sebagai ilustrasi, ada  kesepakatan tidak tertulis dalam pelatihan tersebut bahwa jika ingin menyampaikan pendapat ataupun bertanya maka harus tunjuk tangan terlebih dahulu. Yang terjadi adalah beberapa guru lebih senang menyahut pertanyaan tanpa diminta, berkomentar atas pendapat rekannya dan berbicara ketika orang lain berbicara. Bisa dibayangkan kelas yang seperti apa yang dimiliki para guru tersebut. Jika gurunya saja tidak bisa memberikan contoh atau teladan bagaimana caranya menghormati orang lain, bagaimana siswanya bisa diharapkan menghormati orang lain?

 

”Walk the Talk bukan Walk the Dog”

Sebagus apapun rencana pelaksanaan pelajaran yang telah disiapkan secara tertulis tidak akan berlangsung baik tanpa ada pengelolaan kelas yang matang. Guru adalah faktor penting dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru perlu mengenali kondisi siswa, mempunyai kemampuan komunikasi yang baik, memberi perhatian kepada seluruh siswanya secara proporsional, mempersiapkan dan mengendalikan emosinya sebelum dan selama mengajar di kelas.

            Tentu saja kegiatan belajar mengajar juga bergantung pada faktor-faktor lain seperti kondisi fisik kelas, apakah penerangan cukup, ventilasi cukup, tingkat kebisingan suara terjaga serta akses terhadap sumber-sumber belajar terpenuhi dengan adil.

            Faktor siswa juga penting agar proses belajar berlangsung produktif. Apakah mereka sudah siap belajar, motivasinya terbina dengan baik, suasana hatinya nyaman untuk belajar, tidak ada tekanan baik dari guru maupun teman siswa lain ataupun dari lingkungan sosial siswa.

            Namun hal-hal tersebut juga akan percuma jika gurunya bertingkah semau gue, tidak pedulian alias cuek, atau bahkan terlalu keras alias otoriter. Sebaik apapun yang dikatakan guru jika guru tersebut tidak mencontohkannya di dalam kelas, tidak menunjukkan tingkah laku yang sesuai dengan apa yang diajarkannya maka proses kegiatan belajar mengajar tidak akan berlangsung dengan baik. Karena siswa tidak akan belajar dari apa yang dikatakan gurunya, tetapi akan belajar dari yang dilihatnya, dari contoh yang dilakukan gurunya. Proses belajar tidak akan berlangsung produktif dan efektif jika gurunya belum melakukan apa yang diajarkan. Maka kebiasaan “walk the dog” –menuntun anjing– harus dihilangkan, jadilah guru yang “walk the talk”—konsisten antara perkataan dan perbuatan–  bukan “walk the dog.”

 

Oleh S Agung Wibowo

Pelatih Guru pada Yayasan Pendidikan Luhur

Jakarta.

 

Ditulis dalam Tentang Guru | 2 Komentar »