Agung’s Weblog

Catatan, pikiran dan ide-ide tentang guru, mengajar dan belajar

Arsip untuk Mei, 2008

Mengajar Siswa Untuk Berpikir

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Mei 24, 2008

 

 

Bloom Taksonomi, ada yang mengatakan pendekatan ini sudah kuno dan ketinggalan jaman. Namun biarpun ini sudah lama, banyak guru ketika memberikan instruksi atau pertanyaan dalam kelas tidak menggunakan pendekatan apapun. Hal ini mengakibatkan pertanyaan atau pun instruksi mereka dangkal dan hanya menyentuh hafalan semata. Contohnya: Sebutkan…; Apa namanya?; Carilah…; dan yang sejenisnya.

 

Di bawah ini ada beberapa contoh penggunaan Taksonomi Bloom di kelas. Guru bisa menggunakannya sebagai alat bantu dalam membuat instruksi atau pertanyaan.

 

Dari Taksonomi Bloom

Tingkatan

Instruksi/pertanyaan dalam kelas

Tinggi

Sintesa

-         Ciptakan sebuah karangan…

-         Ciptakan sebuah puisi tentang…

-         Buatlah sebuah produk yang…

-         Temukan…

-         Apa hipotesamu tentang…

-         Rancang sebuah produk…

-         Apa yang terjadi jika…

-         Buatlah sesuatu yang asli…

-         Padukan beberapa sumber dan…

 

Tinggi

Evaluasi

-         Berikan pendapatmu tentang…

-         Berikan penilaian mengenai…

-         Pilihlah…

-         Berikan rekomendasi…

-         Apa yang harus dilakukan agar hasilnya berbeda…?

 

Tinggi

Analisa

-         Buatlah pengelompokan/kategori…

-         Bandingkan…

-         Cari perbedaaannya…

-         Carilah persamaannya

-         Temukan kesalahan proses dari…

-         Bedakan antara fakta atau pendapat…

-         Pendapat itu (tidak) relevan karena…

 

Menengah

Penerapan

-         Buatlah sebuah grafik …

-         Buatlah Ilustrasi…

-         Buatlah surat ….

-         Berikan cara lain…

Rendah

Pengetahuan dan Pengertian

-         Sebutkan…

-         Carilah…

-         Temukan…

-         Ceritakan kembali…

-         Ukurlah…

-         Bandingkan..

* Diadaptasi dari Taksonomi Bloom

S Agung Wibowo

Ditulis dalam 1 | Leave a Comment »

Skema Pengatur 1

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Mei 23, 2008

Saya dengar, saya lupa

 

Saya lihat, saya ingat

 

Saya lakukan, saya paham

 

Kutipan pepatah Cina tersebut menggambarkan bahwa otak kita menyimpan memori dalam bentuk gambar. Sayangnya di kelas-kelas kita mulai SD sampai perguruan tinggi, guru maupun dosen masih lebih banyak berceramah dari pada mengajak siswa atau mahasiswanya melakukan apa yang diceramahkannya, bahkan gambarnya pun tidak ada. Jangankan paham, ingat pun tidak, karena tidak terbayang, tidak tergambar dalam otak.

 Dalam artikel ini saya ingin berbagi beberapa SKEMA PENGATUR (Graphic Organizer) yang bisa dipakai di kelas bersama siswa-siswa.

 Klik disini untuk melihat secara lengkap.

 

  

 

 

 

 

 

Ditulis dalam Pelatihan | Leave a Comment »

FEE Momento…

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Mei 16, 2008

FEE-2006: Feiny, Dr.Stengel, Yulita, Agung, Ita

 

FEE-2005: Aroem, Melany, Dr. Stengel, Ita,  and Agung

… Science Workshop 2005

 

Writing Workshop: cut and paste….real cutting and pasting…

Happy Team…

Full team…

 

 

 

 

Ditulis dalam 1 | Leave a Comment »

A Finnish way for the Japanese educational system?

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Mei 8, 2008

Jepang memang bangsa pembelajar. Tetapi harus dibedakan antara pendidik dan birokrat. Dan itu juga terjadi di mana-mana

 

Agung Wibowo

Diunduh tanggal 8 Mei 2008 jam 9.53 WIB

http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/fl20080506a2.html

 

Tuesday, May 6, 2008

 

A Finnish way for the Japanese educational system?

 

By TOMOKO OTAKE

Staff writer

Ever since students in Finland emerged as top performers in the Organization for Economic Cooperation and Development’s Programme for International Student Assessment (PISA), many teachers and policymakers in Japan have turned to this Scandinavian country of 5.2 million for insights on how to educate children.

Symposiums and seminars on Finnish education abound. Experts say that Finland’s schools are flooded with requests for tours from abroad. At the Marunouchi head store of Tokyo-based bookseller chain Maruzen, books touting “Finland education methods” have been selling well since the end of 2005, when the first in a series of practical guides to Finnish education was published, says store employee Yoshitaka Kudo.

Started in 2000 and held every three years since, the PISA survey measures 15-year-olds’ abilities in reading, math and science, and is unique in that it tests how students apply the skills and knowledge they learn in school to real-life situations, rather than testing their skills or knowledge per se.

Finland ranked No.1 in the PISA’s 2006 survey in the area of science, followed by Hong Kong and Canada. In the same survey, Japan came in 6th, followed by South Korea’s 11th, the U.K.’s 14th and the United States’ 29th.

What’s so special about Finland? Japanese parliament member Marutei Tsurunen, a naturalized Japanese citizen who was born in Finland, told reporters at a recent lecture in Tokyo that in Finland teachers help children learn on their own, rather than giving or teaching them answers. Finnish kids get virtually no homework, even on weekends, and their summer break is 2 months long, he said. Coupled with such a relaxed style of learning is a sense passed down from parents to children over generations that the Finnish must learn on their own and communicate well with others to survive, given the nation’s weather and a history of being invaded by its neighbor Russia.

Seiji Fukuta, a professor of comparative culture studies at Tsuru University in Yamanashi Prefecture who has written numerous books on Finnish education, pointed out several factors that make the Scandinavian country’s education stand out. First, the purpose of education there is to nurture character and instill a sense of independence among individuals, whereas in Japan, many students study to achieve high scores in exams and thus entrance into high-ranking high schools and universities. Second, Finnish teachers, all of whom must have a masters’ degree in education, enjoy relative freedom on what and how to teach. Third, Finland gives no tests to students until the age of 16, which means they are driven not by competition but their own desire to learn.

“Students’ motivation to learn will not last long if they are studying just to compete,” Fukuta says. “If they are studying just to pass the exams, they forget what they learn the minute the tests are over.” Fukuta expressed skepticism over the recent publication of Japanese-language books claiming to teach “Finnish methods,” saying that they are not authentic. Methods of logical and analytical thinking in such textbooks are not unique to Finland, he said.

What can people learn from the Finnish system? Walt Gardner, a retired public-school teacher from California who occasionally contributes essays on education to the media, says Americans have always believed in pragmatism, whereas Finland “considers education for its value per se.”

“I think the lesson that schools in the United States can learn from Finland is that testing shouldn’t be used punitively but constructively,” he says. “Assessment is an indispensable part of the educational process. But it should be used to help teachers improve their instruction.”

With the No Child Left Behind Act of 2001 in the United States, the results of mandatory standardized tests are posted, and “naming and shaming are thought to be the best way to shape up schools,” says Gardner.

There is no sign that Japan as a whole will adopt the Finnish approaches any time soon. In fact, the Education Ministry in February released drafts of a new course of study at elementary and middle schools that should become effective in 2011 and 2012. For the first time in 30 years, schools are increasing the number of class hours and teaching content and reducing the number of hours to teach “integrated study classes” a course in which schools decide what to teach, and which resembles the integrated, experience-based way many Finnish teachers teach such subjects as physics, geography and mathematics.

“Finnish education is future-oriented in that it fosters students’ ability to keep learning,” Fukuta says. “The question is whether we too can nurture a lifelong habit of learning

Tomoko Otake)

 

Ditulis dalam Artikel Media | Bertanda: | 2 Komentar »

Bertemu Mochtar Buchori

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Mei 6, 2008

         Jika saja saya tidak menjadi anggota milis SD-Islam maka saya mungkin tidak akan tahu dan aktif di Foundation for Excellence in Education. Jika saya tidak terus aktif di milis SD-Islam maka saya mungkin tidak kenal Klub Guru. Jika saja saya tidak melibatkan diri dengan Klub Guru maka saya tidak akan bertemu dengan Mochtar Buchori. Apa yang dilakukan seseorang pada masa lalu memang sangat berpengaruh kepada apa yang akan terjadi di masa depan, “Butterfly Effect”. Namun saya tidak akan berbicara mengenai teori ini.

 

Selasa, 6 Mei 2008 saya bersama Pak Nanang alias Pak Ahmad Rizali sekitar jam 15.15 meluncur ke Bintaro sektor 9 dari kantor CBE di Jati Padang. Perjalanan ke Puri Bintaro 8 no. 29 sekitar 1 jam. Di rumah yang kecil, bersih, dan bercat warna krem saya dan Pak Nanang bertemu dengan Mochtar Buchori. Niat kami adalah mengundangnya menjadi pembicara pada pembukaan Klub Guru JADEBOTABEK.

 

Mochtar Buchori, sang begawan pendidikan Indonesia yang biasanya hanya saya lihat dari jauh ketika menjadi pembicara seminar sekarang ada di hadapan saya. Tubuhnya yang renta, jalannya yang tertatih tidak bisa menghalangi semangat yang bergelora di dalam dadanya. Suaranya jernih dan jelas ketika menyampaikan pandangannya tentang pendidikan dan guru. Saya seperti menemukan mata air  ilmu yang menggelegak jernih dan segar.

 

Beliau menyampaikan tiga hal penting yang seharusnya disadari oleh seorang guru. Seorang guru menurut beliau adalah mengajarkan kepada siswa bagaimana untuk hidup, kemudian mengajarkan untuk hidup bermakna dan yang paling mendasar adalah mengajarkan untuk memuliakan kehidupan.

 

Ketiga hal tersebut banyak dilupakan oleh guru pada saat sekarang ini. Yang terjadi banyak guru yang hanya terpaku oleh hal-hal teknis, mengejar target, mengajarkan apa yang ada dalam buku teks. Tidak terpikir oleh mereka bahwa banyak dari informasi-informasi yang mereka jejalkan kepada siswa tidak bisa digunakan siswa itu untuk hidup. Pelajaran menghitung, aljabar, bahasa, ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam diajarkan hanya sekedar untuk lulus ujian, tetapi siswa tidak tahu bagaimana caranya menggunakan hal-hal itu untuk hidupnya selepas sekolah.

 

Kalau pelajaran untuk hidup saja terabaikan, bagaimana bisa hidup bermakna? Beliau mengeritik lomba-lomba, olimpiade-olimpiade ilmu pengetahuan alam, matematika, dan yang lain yang membuat siswa berkompetisi menjadi pintar tetapi tidak bermakna bagi bangsanya. Guru-guru mereka yang mengajarkan untuk menjadi pemenang, menjerumuskan mereka menjadi robot-robot, alat-alat perusahaan multinasional dan negara kapitalis. Lihat saja betapa banyak siswa-siswa pintar kita, pemenang olimpiade fisika, matematika dan lainnya telah diijon sejak SMP oleh negara lain, Singapura misalnya. Hal ini menjadikan mereka lebih mementingkan dirinya sendiri yang pada akhirnya untuk keuntungan orang lain, negara lain dan perusahaan multi nasional. Mereka melupakan kepentingan bangsanya. Apa itu bermakna? Jika yang pintar-pintar saja tidak bisa hidup bermakna, apalagi bagi yang kurang dalam segi kemampuan berpikir? Siswa yang lulus dengan menghalalkan segala cara, mendapatkan pelajaran untuk hidup tidak bermakna dari para gurunya.

 

Memuliakan kehidupan, sebuah hal yang paling dasar yang tidak diajarkan guru saat ini. Bahkan guru mengajarkan untuk tidak menghargai dirinya sendiri dengan merusak tubuh melalui merokok. Pelajaran tentang ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial bahwa pola hidup manusia bisa berpengaruh terhadap keseimbangan alam tidak berbekas pada siswa. Siswa-siswa membuang sampah sembarangan, memakai plastik berlebihan, boros penggunaan air, boros listrik, boros segalanya. Mereka tidak memuliakan kehidupan, karena memang tidak diajarkan oleh guru mereka. Tawuran, penggunaan HP, internet, serta alat komunikasi lainnya untuk hal-hal yang merendahkan martabat manusia dilakukan oleh para siswa. Mengapa? Karena gurunya tidak mengajarkan mereka untuk memuliakan kehidupan.

 

Mochtar Buchori, bertemu dengan beliau, mengobrol tentang berbagai hal selama kurang lebih 45 menit, bagaikan membaca lima buku tebal yang mengajarkan saya untuk menjadi guru yang yang lebih baik lagi. Itu semua karena saya menjadi anggota milis di SD-Islam, aktif di FEE dan menggiatkan KLUB GURU.

 

S Agung Wibowo

 

PS: Pertemuan dengan Mochtar Buchori memang inspiratif. Apa yang tertulis di atas idenya dari beliau, sebagian perkataan Pak Nanang, saya hanya merangkaikan dan mengisi dengan informasi yang ada dalam kepala saya.

 

 

 

 

 

 

Ditulis dalam Tentang Guru | Bertanda: , | 3 Komentar »

“Walk the Talk bukan Walk the Dog”

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Mei 5, 2008

            “Walk the Talk” adalah sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris yang menggambarkan seseorang yang perkataannya sesuai dengan perbuatannya. Mungkin inilah yang hilang dari kelas-kelas di sekolah-sekolah kita. Para guru tidak lagi melakukan apa yang dikatakannya, sehingga para siswa tidak lagi bisa melihat teladan dari orang yang dikatakan mendidiknya. Kegiatan belajar mengajar seringkali tidak berjalan dengan baik. Guru lebih banyak mengatur siswanya dari pada memfasilitasi siswa untuk belajar. Sehingga guru banyak kehilangan kendali atas kelasnya dan mengatakan bahwa siswa tidak bisa diatur.

 

Itulah yang tersirat ketika penulis memberikan pelatihan tentang Pengelolaan Kelas pada program Adopt the Teacher yang dilaksanakan oleh Sampoerna Foundation, pada hari Sabtu, 3 Mei 2008. Secara teori dan konsep peserta pelatihan yang notabene para guru senior dengan mudah memberikan respon secara kognitif ketika diminta mendefinisikan apa itu pengelolaan atau manajemen kelas. Tidak ada masalah bagi mereka untuk menyebutkan faktor-faktor psikologis dan faktor fisik yang mempengaruhi proses kegiatan belajar mengajar. Kalau diberi tes tertulis mungkin nilainya rata-rata 80.

 

Jargon Pendidikan

Tidak bisa dipungkiri para guru kita terjebak dengan jargon-jargon pendidikan tanpa tahu konkrit pelaksanaanya di kelas. Ketika berdiskusi mengenai guru sebagai fasilitator maka kebanyakan peserta hanya memberikan definisi ataupun penjelasan yang teoritis tanpa bisa memberikan contoh yang konkrit apa yang dilakukan guru sebagai fasilitator di dalam kelas. Dengan fasih para guru bisa menjelaskan apa itu student centered dan apa itu teacher centered namun kesulitan untuk memberikan contoh aplikasinya di dalam kelas.

            Para guru tahu bahwa mereka itu adalah teladan untuk para siswa namun pengetahuan tersebut tidak tercermin dalam tindakan mereka sebagai guru. Sebagai ilustrasi, ada  kesepakatan tidak tertulis dalam pelatihan tersebut bahwa jika ingin menyampaikan pendapat ataupun bertanya maka harus tunjuk tangan terlebih dahulu. Yang terjadi adalah beberapa guru lebih senang menyahut pertanyaan tanpa diminta, berkomentar atas pendapat rekannya dan berbicara ketika orang lain berbicara. Bisa dibayangkan kelas yang seperti apa yang dimiliki para guru tersebut. Jika gurunya saja tidak bisa memberikan contoh atau teladan bagaimana caranya menghormati orang lain, bagaimana siswanya bisa diharapkan menghormati orang lain?

 

”Walk the Talk bukan Walk the Dog”

Sebagus apapun rencana pelaksanaan pelajaran yang telah disiapkan secara tertulis tidak akan berlangsung baik tanpa ada pengelolaan kelas yang matang. Guru adalah faktor penting dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru perlu mengenali kondisi siswa, mempunyai kemampuan komunikasi yang baik, memberi perhatian kepada seluruh siswanya secara proporsional, mempersiapkan dan mengendalikan emosinya sebelum dan selama mengajar di kelas.

            Tentu saja kegiatan belajar mengajar juga bergantung pada faktor-faktor lain seperti kondisi fisik kelas, apakah penerangan cukup, ventilasi cukup, tingkat kebisingan suara terjaga serta akses terhadap sumber-sumber belajar terpenuhi dengan adil.

            Faktor siswa juga penting agar proses belajar berlangsung produktif. Apakah mereka sudah siap belajar, motivasinya terbina dengan baik, suasana hatinya nyaman untuk belajar, tidak ada tekanan baik dari guru maupun teman siswa lain ataupun dari lingkungan sosial siswa.

            Namun hal-hal tersebut juga akan percuma jika gurunya bertingkah semau gue, tidak pedulian alias cuek, atau bahkan terlalu keras alias otoriter. Sebaik apapun yang dikatakan guru jika guru tersebut tidak mencontohkannya di dalam kelas, tidak menunjukkan tingkah laku yang sesuai dengan apa yang diajarkannya maka proses kegiatan belajar mengajar tidak akan berlangsung dengan baik. Karena siswa tidak akan belajar dari apa yang dikatakan gurunya, tetapi akan belajar dari yang dilihatnya, dari contoh yang dilakukan gurunya. Proses belajar tidak akan berlangsung produktif dan efektif jika gurunya belum melakukan apa yang diajarkan. Maka kebiasaan “walk the dog” –menuntun anjing– harus dihilangkan, jadilah guru yang “walk the talk”—konsisten antara perkataan dan perbuatan–  bukan “walk the dog.”

 

Oleh S Agung Wibowo

Pelatih Guru pada Yayasan Pendidikan Luhur

Jakarta.

 

Ditulis dalam Tentang Guru | 2 Komentar »