Agung’s Weblog

Catatan, pikiran dan ide-ide tentang guru, mengajar dan belajar

“Essential of Exemplary Social Studies Programs (3)”

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Maret 10, 2009

Lanjutan….
Bagian terakhir.

Keterampilan Berpikir

Ada hal penting yang disampaikan dalam buku ini yang kurang (tidak ada) dalam program pembelajaran IPS di Indonesia: menghubungkan antara pengetahuan dengan keyakinan dan tindakan. (Padahal dalam Islam –agama yang dianut sebagian besar penduduk Indonesia– sudah diulas lebih dari seribu limaratus tahun yang lalu: iman itu dalam hati, diucapkankan dengan kata dan diamalkan dalam perbuatan, tapi itu akan dibahas dalam bab lain…)

Caranya? Latihan yang sistematis dalam proses pembelajaran di sekolah (bisa saja dalam institusi pendidikan yang lain) akan mengasah keterampilan berpikir. Hal dasar yang menjadi tujuan pembelajaran IPS adalah rangkaian keterampilan yang mendukung sikap-sikap yang rasional dalam situasi social.

Keterampilan itu adalah keterampilan berupa keterampilan dasar yaitu membaca dan matematika (aslinya: computation) ditambah beberapa keterampilan lain yang dikelompokkan dalam empat kategori keterampilan utama:

1. Keterampilan pengumpulan data Belajar untuk:
- mendapatkan informasi melalui observasi
- mencari informasi dari berbagai sumber
- membuat kompilasi, mengatur, dan mengevaluasi informasi
- memahami inti informasi dan membuat interpretasi dari informasi tersebut
- mengkomunikasikan informasi itu: lisan dan tulisan

2. Keterampilan intelektual. Belajar untuk:
- membandingkan: benda, ide, kejadian/peristiwa, situasi berdasarkan persamaan dan perbedaan
- melakukan klasifikasi, membuat kategori
- bertanya dengan pertanyaan yang sesuai, bertanya untuk mencari tahu…
- membuat kesimpulan, berinferensi
- membuat prediksi yang intelek dari sebuah generalisasi

3. Keterampilan menentukan keputusan. Belajar untuk:
- mempertimbangkan solusi alternatif
- mempertimbangkan konsekuensi dari setiap solusi
- membuat keputusan dan memberikan alasan yang sesuai dengan prinsip-prinsip demokratis
- mengambil tindakan berdasarkan pada keputusan tersebut

4. Keterampilan interpersonal. Belajar untuk:
- melihat dari sudut pandang orang lain
- memahami keyakinan, perasaan, kemampuan, dan kekurangan diri sendiri dan bagaimana hal-hal tersebut mempengaruhi hubungannya dengan orang lain
- membuat generalisasi terhadap sebuah kelompok tanpa membuat stereotip dan membuat klasifikasi individu secara arbitrer (ini susah sekali….)
- mengenali nilai-nilai pada individu/orang lain berbeda dari nilai dirinya sendiri dan nilai kelompoknya juga berbeda dari individunya (susaaahhh)
- bekerja secara efektif dalam kelompok
- memberikan juga menerima kritik secara konstruktif
- mampu bertanggung jawab dan menghormati hak dan milik orang lain

Keterampilan berpartisipasi.
Sebagai warga (negara) yang aktif, seseorang akan menggunakan pengetahuan keyakinan dan keterampilan yang dipelajari di sekolah, ruang kelas, dan keluarga sebagai landasan berpartisipasi.

Menghubungkan ruang kelas dengan komunitas akan memberikan banyak peluang bagi siswa untuk belajar dasar-dasar keterampilan berpartisipasi, mulai dari observasi sampai advokasi. Untuk mengajarkan partisipasi program pembelajaran IPS perlu untuk menekankan pada keterampilan:
- bekerja secara efektif dalam kelompok: oragnisasi, perencanaan, membuat keputusan, mengambil tindakan
- membentuk koalisi berdasarkan kepentingan dengan kelompok lain
- persiasi, berkompromi, tawar-menawar
- sabar, dan teguh untuk mencapai tujuan
- mengembangkan pengalaman dalam situasi lintas kultural

Ini terjemahan dan adaptasi dari “Essential of Exemplary Social Studies Programs” dalam buku “Social Studies and the Elementary School Child. Hal. 32-33” Pembaca boleh setuju atau tidak dengan buku ini (bagian dari buku ini) tetapi bagi saya ini tetap menarik untuk dipraktekkan di sekolah-sekolah di Indonesia karena akan memperkaya kelas-kelas IPS kita.

Agung Wibowo
10 Maret 2009

Ditulis dalam 1 | yang berkaitan: , , | Leave a Comment »

“Essential of Exemplary Social Studies Programs” (bag.2)

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Maret 6, 2009

Lanjutan….

Keyakinan kepada DEMOKRASI

Kalau di “Social Studies and the Elementary School Child” rujukkannya adalah “The Declaration of Independence and the United States of Constitution dengan Bill of Rightsnya maka seharusnya kita juga merujuk kepada Pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya ada Pancasila dan UUD 1945 plus perubahannya.

(Mungkin saya akan banyak diketawai…wong para anggota Legislatif yang Terhormat saja nggak merujuk ke situ dalam bernegara kok saya ngomong tentang rujukan Negara…)

Program pembelajaran IPS yang baik tidak mengindoktrinasi siswa, menjejalkan ideologi Negara kepada siswa (yang terbukti gagal selama 32 tahun) tetapi mengajak para siswa berpikir mengenai konsep-konsep kenegaraan kita, berdiskusi, bagaimana hal-hal mendasar tersebut bisa mengawal kehidupan bermasyarakat, bernegara dan kelembagaan yang demokratis.

Program pembelajaran IPS tercermin dalam pelaksaan kegiatan belajar mengajar, demokrasi dipraktekkan dalam kehidupan sekolah dengan berlandaskan kepada proses-proses persamaan hak, partisipasi publik yang berakar kepada konsep keadilan, persamaan, kemerdekaan, keragaman, dan juga penghormatan terhadap individu.

Sebagai catatan untuk yang mencari naskah UUD 1945 dan perbahannya maka dipersilahkan untuk klik: UUD 1945.

Agung W

6 Maret 2009

Ditulis dalam 1 | Leave a Comment »

“Essential of Exemplary Social Studies Programs”

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Maret 5, 2009

Pada tulisan saya yang lalu, saya menyampaikan salah satu ketakutan saya, yaitu “lupa.” Lupa pada sesuatu yang penting. Lupa terjadi karena koneksi antar neuron-neuron terputus. Jadi saya memutuskan untuk menjaga koneksi-koneksi tersebut. Salah satu caranya adalah membuat terjemahan dari buku-buku yang pernah saya baca. Salah satunya adalah: “Social Studies and the Elementary School Child.”

Ada bagian yang menarik dari buku ini yang saya anggap penting untuk dibagi dengan semua yang mempunyai perhatian terhadap perkembangan Ilmu Pengetahuan Sosial, khususnya di sekolah dasar.

Apa yang akan saya terjemahkan secara bebas ini mungkin akan terasa pas karena bulan April 2009 ini kita akan ada kegiatan demokrasi rutin lima tahunan.

Dalam buku ini, pada bagian “Essential of Exemplary Social Studies Programs,” dituliskan: Partisipasi warga negara dalam kehidupan publik adalah sangat penting bagi kesehatan sistem demokrasi. Program pelajaran IPS (terpaksa saya terjemahkan IPS) yang efektif adalah untuk mempersiapkan siswa yang nantinya akan dapat: mengidentifikasi, memahami masalah sosial, serta bekerja untuk memecahkan masalah yang dihadapi bangsa ini serta dunia yang semakin beragam dan saling berkaitan.

(Bagian yang saya suka dari buku ini karena IPS di sini digunakan untuk mempersiapkan siswa menghadapi dunia nyata. Bukan untuk bisa mengerjakan UAN, oh lupa IPS tidak diujikan di Indonesia, jadi nggak penting!)

Lalu apa saja yang perlu dipersiapkan untuk siswa?

Pengetahuan
Pengetahuan tentang:
- Dunia secara umum,
- Lingkungan sekitar siswa,
- Individu-individu di sekitar lingkungan siswa dan dunia,
- Lembaga dan kelembagaan,
- Masa lalu (sejarah)
- Masa kini
- Masa depan
Kurikulum pembelajaran IPS yang baik menghubungkan informasi yang dipresentasikan dalam kelas dikaitkan dengan pengalaman nyata siswa dalam kehidupan yang nyata melalui observasi, analisis, serta partisipasi sosial dan kewarganegaraan.

Program pembelajaran yang baik mengajarkan: keterampilan,konsep dan generalisasi yang membantu siswa untuk memahami luasnya masalah yang dihadapi manusia serta cara-cara mengelola konflik yang sesuai dengan prosedur-prosedur yang demokratis.

(Menarik! Karena di sini ditegaskan yang diajarkan adalah keterampilan, konsep, serta generalisasi. Bukan sekedar hafalan tanggal, nama, peristiwa atau lembaga)

Nah sekarang terserah sekolah (guru). Apakah hanya akan mengajarkan hafalan untuk ujian atau mempersiapkan siswa untuk kehidupan nyata?

Ini bagian pertama, nanti bagian selanjutnya menyusul.

Agung W
5 Maret 2009

Ditulis dalam 1 | yang berkaitan: , , | 2 Komentar »

Hilangnya hubungan antar Neuron

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Maret 5, 2009

Satu hal yang saya takutkan pada otak saya adalah hilangnya hubungan antara neuron-neuron yang membentuk pemahaman yang telah saya bentuk selama hidup saya.

Memori atau ingatan hidup terbentuk dari hubungan-hubungan yang terjalin pada jutaan neuron yang membangun jaringan pemahaman tentang hidup ini.

Tetapi kadang sikap saya terhadap sesuatu hal membuat hubungan-hubungan antar neuron itu terputus atau sulit untuk dilacak kembali, akibatnya saya lupa atau kehilangan koneksi terhadap hal tersebut. Banyak hal yang saya sadari telah putus koneksinya sehingga saya hanya mendapatkan gambaran besar saja mengenai suatu peristiwa, kejadian, pelajaran, dan lain sebagainya.

Saya harus memperbaiki sikap terhadap hidup ini agar koneksi-koneksi yang penting antar neuron-neuron dalam otak saya tetap tersambung agar hidup ini lebih bermakna.

Agung W
5 Maret 2009

Ditulis dalam 1 | Leave a Comment »

Bertanya untuk Membangun Pemahaman (bag 2)

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Agustus 19, 2008

I.  Pentingnya Pertanyaan dalam Proses Pembelajaran

Tujuan dari pembelajaran adalah agar siswa bisa mendapatkan suatu pemahaman dari konsep-konsep yang dipelajari. Oleh karena itu proses belajar mengajar yang dilakukan  di dalam kelas hendaknya selalu bertitik tolak pada apa yang diketahui oleh siswa sebelumnya dan dihubungkan dengan konsep baru yang diajarkan, sehingga siswa bisa membangun pemahaman dari padanya.

            Untuk bisa membangun pemahaman tersebut maka dibutuhkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja sesuai, namun juga strategis, fokus dan efektif. Karena pertanyaan adalah hal yang penting bagi proses pembelajaran maka guru perlu mempelajari, mempersiapkan, serta merencanakan pertanyaan dengan baik. Jika guru bisa memberikan pertanyaan secara efektif maka siswa akan memperoleh fasilitas pembelajaran yang penting. Pertanyaan-pertanyaan yang baik akan membantu siswa menyusun serta mengorganisasikan pemikiran mereka. Dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan guru memberikan model yang baik bagi siswa untuk mengolah data yang yang mereka terima. Dalam hal ini siswa juga belajar keterampilan bagaimana mengolah informasi, mengetahui apakah informasi yang mereka punyai cukup atau kurang untuk mengambil kesimpulan. Keterampilan ini sangatlah penting bagi siswa.

            Ketika siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan guru maka yang terjadi adalah proses aktif pencarian pemahaman. Pertanyaan berfungsi seperti perancah ketika seorang ahli bangunan membangun gedung. Ketika cor semen belum kering sempurna maka perancah tersebut belum dilepas.

 

II. Petunjuk Umum bagi Guru untuk Bertanya

Bertanya merupakan sebuah keterampilan karena itu perlu dipelajari dan dilatih. Pertanyaan yang tidak terarah dan tidak fokus akan membuat yang ditanya bingung dan

kehilangan arah.

            Hal pertama yang perlu dilakukan guru adalah memahami konsep dari materi yang hendak disampaikannya dalam sebuah pelajaran. Dengan memahami konsep dari materi ini ini guru mengerti inti dan tujuan materi ini. Tidak perlu mengerti semua informasi detil dari sebuah pelajaran karena itu hal yang mustahil. Yang penting bagi guru adalah paham mengapa materi tersebut penting bagi siswa, pemahaman apa yang akan dibawa siswa setelah ia selesai mempelajari topik tersebut.

            Guru harus menyadari bahwa keberadaannya adalah sebagai fasilitator berpikir. Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan bukan untuk kepuasan pribadi karena ingin tahu. Pertanyaan-pertanyaan itu bukan pula pertanyaan inkuisitif layaknya seorang penyidik atau jaksa yang sedang memeriksa terdakwa. Siswa disini harus didudukkan sebagai seseorang yang sedang magang dalam hal berpikir. Guru memposisikan dirinya seperti seorang pelatih, seperti pelatih olahraga yang memberikan dorongan, petunjuk agar si atlit semakin ahli dan terampil dalam bidangnya..

            Berikut ini adalah beberapa pedoman bagi guru untuk bertanya.

Prinsip-prinsip umum

  1.  
    1. Berbuat adil. Sebarkan pertanyaan kepada semua siswa, yang di barisan depan, di barisan tengah, kolom samping kanan dan kiri, jangan lupa yang dibelakang. Pertanyaan juga untuk mereka yang tidak mengangkat tangan. Semua berhak untuk belajar.
    2. Berikan pertanyaan-pertanyaan yang mengundang siswa untuk berpikir. Hal ini penting, karena guru cenderung bertanya sesuatu yang faktual saja. Tanyakan sesuatu yang hipotetis yang berkaitan dengan topik.
    3. Lihat sebaran siswa, variasikan tingkat kesulitan pertanyaan. Jangan hanya bertanya yang sulit-sulit saja, berikan juga pertanyaan yang mudah agar siswa semua siswa bisa berpartisipasi.
    4. Doronglah siswa untuk menjawab lengkap dengan alasannya. Jika siswa menjawab hanya sepotong, tanyakan kembali dengan pertanyaan lain agar lebih lengkap jawabannya. Hindari pertanyaan ”ya-tidak.” Jika terlanjur, bertanya yang jawabannya ”ya-tidak” lanjutkan dengan ”Jelaskan.”
    5. Doronglah siswa untuk berpikir kritis. Berikan pertanyaan lanjutan, ”Dalam situasi apa itu berlaku?” ”Bagaimana?” ”Mengapa?” ”Apa perbedaannya dengan…?” ”Apa persamaannya dengan…”

1.      Hindari: Apakah ada yang tahu? Siapa yang bisa?

2.      Berikan waktu untuk berpikir. Tunggu sampai ada empat atau lima siswa yang terlihat mau menjawab.

3.      Jadilah model untuk berbicara baik dan benar serta menunjukkan pemikiran yang koheren.

3.1.  Bertanyalah dengan kalimat yang jelas. Gunakan kosa kata yang sesuai dengan tingkatan kelas.

3.2.  Bertanyalah dengan singkat, spesifik dan proaktif.

4.      Dorong siswa untuk memberikan komentar yang logis kepada jawaban rekannya.

4.1.  Tanyakan, ”Apa pendapatmu terhadap jawaban itu.” ”Apa komentar mu tentang hal tersebut?

4.2.  Berikan pertanyaan lanjutan kepada jawaban yang menuju kepada hal yang diminta, untuk membangun kontribusi.

4.3.  Bersikaplah tegas kepada siswa yang agresif. Tidak ada yang boleh mendominasi baik guru maupun siswa.

4.4.  Jangan cepat berlalu dari siswa yang kesulitan untuk menjawab. Beri dukungan dengan pertanyaan yang sesuai, ”Perlu bantuan dimana?”

5.      Hormati siswa. Jangan memotong siswa yang sedang berusaha menjawab. Hentikan setiap usaha untuk mengejek atau merendahkan setiap usaha siswa yang berkeinginan menjawab. (Kadang ada siswa yang berkomentar lucu atau sinis terhadap rekan yang berusaha menjawab.)

6.      Gunakan teknik: pertanyaan-jeda-nama. Contoh: ”Bagaimana proses terjadinya hujan?” –jeda, 3 detik-,  ”Coba, Anto.”

7.      Jika kelas kecil, maka usahan suara terdengar lantang. Jangan mengulang jawaban atau pertanyaan. (Kecuali kelasnya besar dan padat boleh mengulang pertanyaan dan jawaban.)

8.      Jika ada siswa bertanya, disarankan untuk mengembalikan pertanyaan tersebut ke kelompok besar, ”Apa jawaban atas pertanyaan ini, menurut kalian?”

9.      Personifikasikan pertanyaan. ”Jika kamu menjadi … apa yang akan kamu lakukan?”

10.  Tunjukkan posisi Anda sebagai rekan dengan mengatakan, ”Bagaimana kita memecahkan masalah ini…?”

Ditulis dalam 1 | 2 Komentar »

Bertanya untuk Membangun Pemahaman (1)

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Agustus 15, 2008

Selama karir saya menjadi pelatih guru, hampir 2000 guru yang saya temui. Ada satu kesamaan dari mereka. Kesamaan yang mungkin menyebabkan pendidikan kita tertinggal jauh dari negara-negara lain.

Apakah itu? Kesamaan itu adalah: kurang terampilnya para guru itu dalam hal BERTANYA. Pertanyaan dan bertanya adalah pokok dari proses pembelajaran. Tanpa ada pertanyaan, maka tidak ada proses belajar dan kemajuan dunia ini akan terhenti. Tidak akan ada penemuan-penemuan baru yang membuat hidup manusia semakin mudah. Pertanyaan adalah inti dari belajar. Kalau kita perhatikan, sejak mulai bisa bicara, anak-anak kita yang berusia 2,5 – 3 tahun mulai belajar dengan bertanya apa saja yang terlintas dan terlihat oleh mereka. Ini apa? Apa itu, Mengapa itu? Bagaimana terjadinya? Siapa dia? Mengapa ibu berdandan? Apa Bapak mau pergi? Pergi kemana? Serta ribuan pertanyaan lain. Pertanyaan-pertanyaan ini dilontarkan anak-anak belia itu adalah proses mencari dan menghimpun informasi. Mereka ingin tahu apa yang terjadi diluar dirinya. Pertanyaan adalah sesuatu yang alami dalam diri manusia sebagai makhluk pembelajar.

Ketika anak-anak tersebut masuk ke sekolah sesuatu yang alami tersebut seakan-akan dimatikan. Yang dipesankan kepada mereka, ”Kalau di kelas diam ya, dengarkan apa kata ibu guru.” Pesan apa yang tersampai? Pesan bahwa mereka tidak penting, apa yang mereka ingin ketahui tidak penting. Hal yang penting adalah diam, patuh dan mendengarkan guru, informasi akan diberikan oleh guru. Dalam hal ini orang tua, guru, dan sekolah lupa bahwa tugas mereka adalah memberi fasilitas kepada anak-anak untuk belajar. Alih-alih memberikan fasilitas untuk belajar, yang terjadi adalah penanaman ide bahwa pengetahuan itu milik orang dewasa dan anak-anak hanya boleh menerima.

Sayang, inilah yang terjadi di ruang-ruang kelas kita. Mulai dari TK sampai SMA yang terjadi adalah proses penuangan informasi, seperti teko mengisi gelas. Tidak peduli gelasnya sudah penuh atau gelasnya miring, tanpa pandang bulu si teko terus mengisi gelas tersebut. Guru-guru sudah merasa pekerjaannya selesai kalau sudah memindahkan informasi dari buku teks ke dalam kepala siswa-siswanya. Pertanyaaan yang penting bagi mereka adalah pertanyaan yang ada jawabannya, ada kepastian benar dan salah, ada kuncinya, pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang di UN-kan.

Para guru itu tidak sendirian, buku teks pelajaran yang dibaca para siswapun jarang ada yang memuat pertanyaan yang menarik minat. Bahkan jarang yang memulai pokok bahasannya dengan pertanyaan. Di bawah ini saya kutipkan berapa contoh pembukaan pada beberapa buku pelajaran:

  1. Bilangan Cacah. Menghitung adalah kegiatan matematika yang telah dilakukan manusia sejak dulu. Pada saat itu manusia melakukan perhitungan pada banyaknya ternak yang mereka miliki atau barang-barang yang mereka gunakan. (Matematika untuk SMP Kelas VII Semester 1, oleh Wono Setya Budhi Ph.D. hal 2.)
  2. Sumpah Pemuda. Inti dari Sumpa Pemuda adalah satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. (PKN, Kelas 3 Sekolah Dasar, oleh Drs. Sunarso, M.Si. hal.1)
  3. Perhatikan Agis dan teman-teman. Mereka sedang belajar Al Qur’an. Mereka memperhatikan guru dengan seksama. (Pendidikan Agama Islam Kelas 3 Sekolah Dasar, oleh Achmad Farichi, S.Pd.I dkk, hal.1)

Padahal, bisa saja pembukaan sebuah buku dimulai dengan sebuah pertanyaan yang menggelitik. Tidak harus terjawab dalam pokok bahasan tersebut, karena tujuannya adalah merangsang otak siswa untuk bekerja. Dari ketiga pokok bahasan di atas, bisa saja penulisnya memulai dengan pertanyaan:

  1. Bilangan cacah, apa itu? Mengapa ada bilangan 0 (nol), apa gunanya? Atau pertanyaan yang lebih mendasar: Untuk apa kita bisa menghitung? Bagaimana cara menghitung?
  2. Sumpah Pemuda, apakah itu? Mengapa Sumpah Pemuda diperingati tiap tahun?
  3. Mengapa kita harus belajar membaca Al Qur’an? Apa pentingnya membaca Al Qur’an bagi kita?

Dalam tulisan ini akan dibahas beberapa hal mengenai pentingnya pertanyaan dalam proses pembelajaran, apa hubungannya pertanyaan dengan pemahaman, bagaimana bertanya yang membangun pemahaman, apa saja yang harus dilakukan guru agar siswa mau bertanya, jenis-jenis pertanyaan yang bisa diajukan guru.

(tunggu lanjutannya…)

 

Ditulis dalam 1 | yang berkaitan: | Leave a Comment »

Mengajar Siswa Untuk Berpikir

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Mei 24, 2008

 

 

Bloom Taksonomi, ada yang mengatakan pendekatan ini sudah kuno dan ketinggalan jaman. Namun biarpun ini sudah lama, banyak guru ketika memberikan instruksi atau pertanyaan dalam kelas tidak menggunakan pendekatan apapun. Hal ini mengakibatkan pertanyaan atau pun instruksi mereka dangkal dan hanya menyentuh hafalan semata. Contohnya: Sebutkan…; Apa namanya?; Carilah…; dan yang sejenisnya.

 

Di bawah ini ada beberapa contoh penggunaan Taksonomi Bloom di kelas. Guru bisa menggunakannya sebagai alat bantu dalam membuat instruksi atau pertanyaan.

 

Dari Taksonomi Bloom

Tingkatan

Instruksi/pertanyaan dalam kelas

Tinggi

Sintesa

-         Ciptakan sebuah karangan…

-         Ciptakan sebuah puisi tentang…

-         Buatlah sebuah produk yang…

-         Temukan…

-         Apa hipotesamu tentang…

-         Rancang sebuah produk…

-         Apa yang terjadi jika…

-         Buatlah sesuatu yang asli…

-         Padukan beberapa sumber dan…

 

Tinggi

Evaluasi

-         Berikan pendapatmu tentang…

-         Berikan penilaian mengenai…

-         Pilihlah…

-         Berikan rekomendasi…

-         Apa yang harus dilakukan agar hasilnya berbeda…?

 

Tinggi

Analisa

-         Buatlah pengelompokan/kategori…

-         Bandingkan…

-         Cari perbedaaannya…

-         Carilah persamaannya

-         Temukan kesalahan proses dari…

-         Bedakan antara fakta atau pendapat…

-         Pendapat itu (tidak) relevan karena…

 

Menengah

Penerapan

-         Buatlah sebuah grafik …

-         Buatlah Ilustrasi…

-         Buatlah surat ….

-         Berikan cara lain…

Rendah

Pengetahuan dan Pengertian

-         Sebutkan…

-         Carilah…

-         Temukan…

-         Ceritakan kembali…

-         Ukurlah…

-         Bandingkan..

* Diadaptasi dari Taksonomi Bloom

S Agung Wibowo

Ditulis dalam 1 | Leave a Comment »

Skema Pengatur 1

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Mei 23, 2008

Saya dengar, saya lupa

 

Saya lihat, saya ingat

 

Saya lakukan, saya paham

 

Kutipan pepatah Cina tersebut menggambarkan bahwa otak kita menyimpan memori dalam bentuk gambar. Sayangnya di kelas-kelas kita mulai SD sampai perguruan tinggi, guru maupun dosen masih lebih banyak berceramah dari pada mengajak siswa atau mahasiswanya melakukan apa yang diceramahkannya, bahkan gambarnya pun tidak ada. Jangankan paham, ingat pun tidak, karena tidak terbayang, tidak tergambar dalam otak.

 Dalam artikel ini saya ingin berbagi beberapa SKEMA PENGATUR (Graphic Organizer) yang bisa dipakai di kelas bersama siswa-siswa.

 Klik disini untuk melihat secara lengkap.

 

  

 

 

 

 

 

Ditulis dalam Pelatihan | Leave a Comment »

FEE Momento…

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Mei 16, 2008

FEE-2006: Feiny, Dr.Stengel, Yulita, Agung, Ita

 

FEE-2005: Aroem, Melany, Dr. Stengel, Ita,  and Agung

… Science Workshop 2005

 

Writing Workshop: cut and paste….real cutting and pasting…

Happy Team…

Full team…

 

 

 

 

Ditulis dalam 1 | Leave a Comment »

A Finnish way for the Japanese educational system?

Ditulis oleh S Agung Wibowo di/pada Mei 8, 2008

Jepang memang bangsa pembelajar. Tetapi harus dibedakan antara pendidik dan birokrat. Dan itu juga terjadi di mana-mana

 

Agung Wibowo

Diunduh tanggal 8 Mei 2008 jam 9.53 WIB

http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/fl20080506a2.html

 

Tuesday, May 6, 2008

 

A Finnish way for the Japanese educational system?

 

By TOMOKO OTAKE

Staff writer

Ever since students in Finland emerged as top performers in the Organization for Economic Cooperation and Development’s Programme for International Student Assessment (PISA), many teachers and policymakers in Japan have turned to this Scandinavian country of 5.2 million for insights on how to educate children.

Symposiums and seminars on Finnish education abound. Experts say that Finland’s schools are flooded with requests for tours from abroad. At the Marunouchi head store of Tokyo-based bookseller chain Maruzen, books touting “Finland education methods” have been selling well since the end of 2005, when the first in a series of practical guides to Finnish education was published, says store employee Yoshitaka Kudo.

Started in 2000 and held every three years since, the PISA survey measures 15-year-olds’ abilities in reading, math and science, and is unique in that it tests how students apply the skills and knowledge they learn in school to real-life situations, rather than testing their skills or knowledge per se.

Finland ranked No.1 in the PISA’s 2006 survey in the area of science, followed by Hong Kong and Canada. In the same survey, Japan came in 6th, followed by South Korea’s 11th, the U.K.’s 14th and the United States’ 29th.

What’s so special about Finland? Japanese parliament member Marutei Tsurunen, a naturalized Japanese citizen who was born in Finland, told reporters at a recent lecture in Tokyo that in Finland teachers help children learn on their own, rather than giving or teaching them answers. Finnish kids get virtually no homework, even on weekends, and their summer break is 2 months long, he said. Coupled with such a relaxed style of learning is a sense passed down from parents to children over generations that the Finnish must learn on their own and communicate well with others to survive, given the nation’s weather and a history of being invaded by its neighbor Russia.

Seiji Fukuta, a professor of comparative culture studies at Tsuru University in Yamanashi Prefecture who has written numerous books on Finnish education, pointed out several factors that make the Scandinavian country’s education stand out. First, the purpose of education there is to nurture character and instill a sense of independence among individuals, whereas in Japan, many students study to achieve high scores in exams and thus entrance into high-ranking high schools and universities. Second, Finnish teachers, all of whom must have a masters’ degree in education, enjoy relative freedom on what and how to teach. Third, Finland gives no tests to students until the age of 16, which means they are driven not by competition but their own desire to learn.

“Students’ motivation to learn will not last long if they are studying just to compete,” Fukuta says. “If they are studying just to pass the exams, they forget what they learn the minute the tests are over.” Fukuta expressed skepticism over the recent publication of Japanese-language books claiming to teach “Finnish methods,” saying that they are not authentic. Methods of logical and analytical thinking in such textbooks are not unique to Finland, he said.

What can people learn from the Finnish system? Walt Gardner, a retired public-school teacher from California who occasionally contributes essays on education to the media, says Americans have always believed in pragmatism, whereas Finland “considers education for its value per se.”

“I think the lesson that schools in the United States can learn from Finland is that testing shouldn’t be used punitively but constructively,” he says. “Assessment is an indispensable part of the educational process. But it should be used to help teachers improve their instruction.”

With the No Child Left Behind Act of 2001 in the United States, the results of mandatory standardized tests are posted, and “naming and shaming are thought to be the best way to shape up schools,” says Gardner.

There is no sign that Japan as a whole will adopt the Finnish approaches any time soon. In fact, the Education Ministry in February released drafts of a new course of study at elementary and middle schools that should become effective in 2011 and 2012. For the first time in 30 years, schools are increasing the number of class hours and teaching content and reducing the number of hours to teach “integrated study classes” a course in which schools decide what to teach, and which resembles the integrated, experience-based way many Finnish teachers teach such subjects as physics, geography and mathematics.

“Finnish education is future-oriented in that it fosters students’ ability to keep learning,” Fukuta says. “The question is whether we too can nurture a lifelong habit of learning

Tomoko Otake)

 

Ditulis dalam Artikel Media | yang berkaitan: | 2 Komentar »